Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
JANJI ALLAH HARAPAN KITA.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Bagi orang yang berdosa, hendaknya janganlah berputus asa. Karena berputus asa adalah dosa. Apakah dosa harus bertambah karena patah arang? Dan sikap putus asa adalah pertanda lemahnya iman.

Bukankah Allah Swt. telah berjanji di dalam Al-Qur'an. Bahkan banyak ayat-ayat yang menerangkan tentang janji pengampunan Allah terhadap orang-orang berdosa. Tentu saja jika kita melakukan taubat dengan sungguh-sungguh. Dan tidak hanya itu, Allah juga memberi janji yang sangat menyenangkan. Di mana Allah akan menyediakan kenikmatan luar biasa, baik kenikmatan di dunia maupun di akhirat bagi orang yang telah melakukan pertaubatan dan taubatnya itu diterima. Inilah yang membesarkan hati orang-orang terlanjur bermaksiat tetapi kemudian bertaubat secara nasuha.

Taubat Membuka Pintu Rejeki.

Barangsiapa yang suka bertaubat, maka Allah akan memberi kenikmatan, baik di dunia maupun di akhirat. Apabila seseorang itu bersungguh-sungguh menyesali kesalahannya. Kemudian ia tekun menjalankan ketakwaan dan menjadi orang yang baik, maka betapa Allah akan membuka kemudahan-kemudahan. Allah akan memberikan kenikmatan hidup. Dan orang tersebut dijauhkan dari berbagai masalah.

Percayakah anda jika taubat dapat membuka pintu rejeki? Yang dimaksudkan adalah rejeki yang barokah. Banyak orang bermaksiat tetapi rejekinya tampak lancar. Hendaknya kita jangan terpukau dengan kenyataan itu. Sesungguhnya orang yang bermaksiat dan rejekinya tampak lancar itu mempunyai banyak masalah. Sehingga rejeki yang didapat dengan mudah itu tidak memberi manfaat dan tidak mendatangkan kebaikan. Namun rejeki yang diterima itu justru menimbulkan berbagai masalah hidup. Banyak orang kaya harta tetapi kaya pula permasalahan.

Rejeki yang dijanjikan Allah kepada orang-orang bertaubat adalah rejeki yang barokah. Bisa jadi rejeki berupa kenikmatan dan kedamaian hati yang langsung dirasakan di dunia. Kemungkinan pula rejeki itu berupa kenikmatan di akhirat berupa surga.

Janji Allah dalam Al-Qur'an:

وَاَنِ اسْتَغْفِرُا رَبَّکُمْ ثُمَّ تُوْبُوْااِلَيْـهِ يُحَتِعْکُمْ مَتَـاعًا حَسَنَا اِلٰٰٓٓى اجَلٍ مُّسَهًّى وَيُؤْ تِ كُلِّ ذِيْ فَضْلٍ فَضْلَهُ وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنِّْيْ اَخَـافُ عَلَيْکُمْ عَـذَابَ يَوْمٍ کَـبِيْرٍ .

"Hendaklah kamu meminta ampunan kepada Tuhanmu dan bertaubatlah kepada-Nya. (Karena jika kamu mengerjakan yang demikian), maka Dia akan memberikan rejeki yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai (balasan) keutamaannya (QS. Hud:3)

Dapatlah dibayangkan betapa celakanya orang yang berkutat dengan maksiat dan mati dalam keadaan belum bertaubat. Dapat pula dibayangkan betapa gembiranya orang yang banyak dosa, kemudian bertaubat dengan sungguh-sungguh dan Allah menerima taubatnya. Pasti dia akan hidup dengan hati tenang, damai dan tidak kekurangan apa yang dibutuhkan. Rejeki yang didapat menjadi barokah. Meskipun yang diterima tidaklah banyak, namun tetap saja cukup. Rejeki barokah yang diperoleh itu mengalir bagaikan air.

Namun sayangnya, pentingnya taubat itu sering kali diabaikan oleh manusia. Dimana, manusia suka berkutat pada kemaksiatan dan kesenangan duniawi. Sehingga apabila Allah memperingatkan dengan berbagai ujian, mereka tidak malah sadar akan dosanya, namun justru menghujat atau saling menyalahkan.

Gejala alam yang tidak ramah bukan karena Allah benci kepada hambanya. Gejala alam seperti gempa bumi, banjir bandang, peperangan dan kemarau panjang itu hanyalah peringatan dari Allah. Sebab manusia yang hidup di atas bumi ini sudah terlena dalam kesenangan maksiat.

Kemarau panjang adalah sebagai bukti nyata. Di dalam Al Qur'an juga di terangkan, bagaimana orang-orang di jaman dahulu mendapat peringatan seperti itu akibat kemaksiatannya. Kemudian jika mereka bertaubat, menyesali dosa-dosanya, Allah mengampuninya. Selanjutnya Allah melimpahkan Rahmat dan kenikmatan-Nya.

Apakah janji Allah di dalam Al Qur'an hanya berlaku bagi umat terdahulu? Tidak. Al Qur'an adalah kitab untuk semua umat yang beriman. Jadi berlaku bagi umat manusia sampai akhir jaman. Berarti janji itu juga buat kita semua.

Oleh karena itu apabila terjadi bencana alam, maka hendaknya kita berintrospeksi. Sudah berapa banyak dosa yang kita perbuat kepada Allah. Kemudian segeralah melakukan taubat bersama. Karena Allah telah berjanji dan janji itu benar adanya:

فَــقُلْت اسْتَغْفِرُوْا رَبَّکُمْ اِنَّهُ كَانَ غَفَّـارًا يُرْسِــلِ الشَمَــآءَءَــلَيْکُمْ ه‍ِدْ رَا، وَحُيْدِدْ. کُــمْ بِأَمْــوَالٍ وَبَنِيْنَ وَّجَعْـلْ لَّکُمْ جَنّٰتٍ وَّلجَعَـلْ لَکُمْ اَنْــهَـارًا .(نوح؛ ١٠-١٢)

"Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakan harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula (di dalamnya) untukmu sungai-sungai."(QS. Nuh: 10-12).

Allah Tidak Benci Kepada Orang Bermaksiat

Allah tidak membeci hamba-Nya yang Bermaksiat. Namun Allah membenci kemaksiatan itu sendiri. Oleh sebab itu sangatlah tidak bijaksana apabila kita membenci pelacur, kita membenci penjudi, pemabok, pencuri dan penjahat.Terhadap pelakunya, Allah tidak membenci. Karenanya kita pun jangan membencinya. Adapun yang harus dibenci adalah perbuatannya. Kita Benci pada zina benci pada kemaksiatan, khamer, judi dan sebagainya.

Dengan demikian berarti orang yang telah terlanjur berbuat maksiat atau dosa masih diberi harapan oleh Allah. Janji Allah ialah mengampuni dosa-dosa mereka, selama mereka mau bertaubat dengan sungguh-sungguh. Ini berarti Allah Maha Rahman dan Rahim kepada semua hambanya dengan tidak membeda-bedakan.

Maka orang yang telah Bermaksiat jangan berkecil hati. Meskipun Bermaksiat itu termasuk menganiaya diri sendiri, namun Allah membuka pintu ampunan begitu lebar dan luas.

Allah berfirman:

وَمَنْ يَعْـمَلْ سُوْءًاوَيْظَّلِم ْ نَفْسَهُ ثُـمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّٰهَ تَجِدِاللّٰهَ غَـفُوْرًا رَحِيْمًـا. ;انـــســاء:١١٠

"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri, kemudian dia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. An-nisa: 110).

Menurut ayat tersebut bahwa orang yang berbuat kejahatan termasuk menganiaya diri sendiri. Bentuk-bentuk kejahatan itu banyak sekali. Semuanya melahirkan sebuah noda atau dosa. Orang yang berbuat kejahatan tidak akan bisa hidup tenang. Di tengah masyarakat ia selalu merasa bersalah. Seorang pencuri tidak akan merasa aman hatinya karena merasa di kejar kejar dosa. Tidak bisa bebas melenggang dalam menapaki kehidupan. Seorang koruptor pun tidak bisa hidup merdeka karena selalu dihantui perasaan takut. Khawatir perbuatannya terbongkar. Seorang penzina juga tidak akan bebas melakukan perzinahan karena akan merasa malu jika di ketahui banyak orang. Pendeknya perbuatan jahat itu hanya akan menyiksa hati sendiri. Inilah yang di maksud orang-orang yang berbuat kejahatan dan menganiaya diri sendiri.

Perbuatan dosa adalah karena pengaruh hawa nafsu. Sebenarnya secara fitrah manusia tidak ingin melakukan kejahatan. Hati nuraninya selalu bersih. Namun hati nurani itu bisa di kalahkan oleh hawa nafsunya. Jika hawa nafsu berkuasa, maka kejahatan yang dilakukan tak mampu dicegah oleh hati nuraninya sendiri.

Orang yang berbuat jahat, maka ketika melakukan kejahatannya akan merasa asyik dan hatinya puas. Namun sekali waktu, hati nuraninya muncul dan mengatakan bahwa perbuatan itu sangatlah tercela. Manakala hati nurani berkata, maka ketika itu ia merasa gelisah dan bersalah. Jangan dibayangkan bahwa para pelacur yang setiap malam Bermandi cahaya, berlenggak-lenggok di diskotik, dalam pelukan lelaki dan mengantongi segepok uang itu selalu merasa berbahagia kesenangan yang mereka rasakan dalam Bermaksiat itu hanya sesaat. Sekali waktu nuraninya akan berkata, bahwa perbuatannya itu salah. Rasa salah tersebut membuat hidupnya tidak bisa bebas merdeka.

Orang-orang berbuat maksiat seperti itulah yang dianggap berlebih-lebihan. Orang yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri. Sekali waktu mereka merasa sebagai sampah masyarakat. Merasakan bahwa dirinya tidak berguna lagi. Merasa dirinya adalah orang-orang terburuk di muka bumi ini. Kendatipun demikian pintu ampunan masih berlaku baginya. Allah masih menerima taubatnya dan dosanya akan diampuni apabila mereka melakukan penyesalan dengan sungguh-sungguh.

قُــلْ يَعِبَـادِ يَ الَّزِيْنَ اسْرَفُوْ اعَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهَ اِنَّ اللّٰهَ يَغْـــفِـرِالْذُّنُوْ بَ جَمِيْعًــااِنَّهُ ه‍ُوَالْغَفُوْرَّحِــيْمِ.

Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah. Karena, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Dan sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. AZ Zumar:53).

Oleh sebab itu bagi orang-orang yang telah melampaui batas dalam Bermaksiat, hendaknya janganlah berkecil hati. Jangan berputus asa dalam mencari ampunan kepada Allah.

Kadang-kadang orang yang telah berbuat maksiat kemudian mudah sekali berputus asa. Mudah sekali menghakimi dirinya sendiri. Ia merasa dirinya adalah orang kotor, banyak dosa dan tak berguna lagi. Ia kemudian merasa berputus asa atas dosa yang menggunung itu tidak diampuni Allah. Pemikiran dan keyakinan seperti itu hendaknya dihilangkan. Tanamkan kepercayaan pada diri sendiri bahwa Allah itu Maha Pengampun. Ampunannya sangat luas. Kita harus percaya akan kebenaran Al Qur'an. Kita harus percaya janji Allah itu pasti ditepati.

Jika selama ini kita merasa dibenci Allah karena kemaksiatan yang kita lakukan, maka apabila bertaubat tentu Allah menyayangi. Allah sangat menyukai orang-orang yang bertaubat. Kasih sayang-Nya itu tidak akan terputus selama kita kembali ke jalan yang benar.

Allah berfirman:

.....اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْتَّوْ اَبِيْنَ وَيُحِـبُّ اْلمُتَطَهِرٍيْنَ . ;البقرة؛ ٢٢٢

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (QS. Al Baqarah: 222).

اَفَلَا يَتُبُوْنَ اِلَى اللّٰهِ وَيْسْتَغْفِرُوْ نَهُ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ;الماءدة؛٧٤

Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan-Nya? Dan, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al Maidah: 74).

وَاسْــتَغْفِرُوْا رَبَّکُمْ ثُـمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ اِنَّ رَبّـِيْ رَحِيْمٌ وَدُوْدٌ ;ه‍ود؛ ٦٠

"Dan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Penyayang dan Maha Pengasih. (QS. Hud: 90).

Sesungguhnya orang yang telah berbuat maksiat kemudian bertaubat dengan sungguh-sungguh maka Allah akan mengampuni. Ampunan itu berupa Rahmat dan hidayah. Apabila seseorang setelah bertaubat kemudian kemaksiatannya kambuh kembali, berarti taubat belum diterima. Tidak diterimanya taubat seseorang karena ia melakukannya dengan setengah hati. Jika bertaubat dengan sungguh-sungguh dan memenuhi persyaratan taubat, menyesali perbuatannya dan tidak mengulangi lagi, insya Allah dia akan mendapatkan hidayah.

Adapun bentuk hidayah itu adalah agama artinya, orang yang bersangkutan sama sekali tidak kembali melakukan kemaksiatan. Tetapi tekun menjalankan amal ibadah. Ia selalu mendekatkan diri kepada Allah dan selalu melaksanakan perintah-perintah-Nya. Inilah dampak dari taubat yang diterima. Karena itulah orang yang bertaubat, maka kejahatannya akan digantikan dengan kebaikan. Maksudnya, kelakuannya yang semua jahat berubah seratus delapan puluh derajat menjadi baik.

اِلاَّمَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَــلًا صَالِحًا فَاُولٰٓــِٰٕكَ يُبَدّـِ لُ اللّٰهُ سَيِـّاٰتهِمْ حَسَنٰتٍ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيمًا ;الفرقان؛ ٧٠

Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha pengampun lagi Maha Penyayang (Al Furqon: 70).

Beberapa ayat Al-Qur'an tersebut dapatlah kita jadikan sebagai pegangan dan untuk meningkatkan keyakinan bahwa Allah selalu membuka ampunan bagi hamba-Nya yang berdosa. Selama hamba itu bertaubat dengan sungguh-sungguh. Allah juga memberi kenikmatan yang luar biasa bagi manusia yang bertaubat. Sesungguhnya banyak ayat-ayat Al-Qur'an yang menjanjikan harapan baik bagi orang-orang yang bertaubat.

Nyatalah bahwa Allah telah menghamparkan kesempatan yang luas berikut kasih sayang-Nya yang melimpah kepada manusia. Kesempatan yang luas dan Rahmat-Nya itu adalah terbukanya pintu taubat dan diampuninya dosa-dosa mereka.

Apabila orang berdosa itu bertaubat dan menjadi orang mukmin, maka Allah akan mencurahkan rahmat-Nya. Ia akan menyayangi orang tersebut yang telah kembali ke jalan-Nya. Allah tidak pernah merasa dendam kepada orang-orang yang berdosa. Terbukti, ia tetap memberi ampunan. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi orang berdosa untuk berputus asa dalam mengharap pengampunan Allah.

🙏

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152)