Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

BIOGRAFI SYEKH ABDULKADIR JAILANI Q.S.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Pemimpin para Wali, teladan para Ulama.


Nama Waliullah yang karismatik ini tak pernah lepas dari sebagiaan besar kaum muslimin sejagat. Setiap hari mereka bermunajat kepada Allah Swt. dengan cara bertawasul, berdoa dengan perantaraan melalui namanya. Tingginya derajat keulamaan dan karisma yang luar biasa menempatkan Syekh Abdul kadir Jailani sebagai pemimpin para waliullah, sehingga ia mendapat julukan wali quthb, pemimpin para waliullah, alias sultanul Auliya, sultan para wali. Manakib atau biografinya banyak diminati dan dibaca umat Islam di seluruh dunia. Bahkan tidak sedikit yang percaya bahwa dengan membacanya akan mendapatkan berkah.

Seluruh perikehidupan Syekh Abdulkadir Jailani sarat dengan pancaran cahaya hikmah yang menjadi inspirasi bagi para ulama, sufi, dan wali generasi berikutnya. Manakibnya penuh suri keteladanan yang menakjubkan, sementara pendapat, nasihat dan karamahnya selalu dibaca, dikenang, dan diteladani. Bukan hanya sebagai ulama, sufi, dan Waliullah, Syekh Abdulkadir Jailani juga dikenal sebagai orator, pengkhotbah, dan intelektual yang produktif menulis sejumlah kitab.

Syekh Abdulkadir Jailani dilahirkan dalam lingkungan yang akrab dengan ilmu pengetahuan agama di Desa Jailan, sebuah wilayah di Gilan atau Jilan, di Iran, pada 471 H/1051 M. Versi lain menyebutkan, Gilan termasuk wilayah Irak. Ia putra Syekh Abu Musa, yang bergelar Abu Shalih - karena termasyhur kesalehannya. Sedangkan ibunya bernama Fatimah. Kedua orang tuanya terkenal sebagai orang-orang yang saleh dan warak - lebih mementingkan kehidupan keagamaan. Masa kecilnya sangat istimewa. Banyak cerita ajaib yang sampai sekarang menjadi legenda.

Jailan, tempat kelahirannya itu, termasuk desa yang hijau karena subur. Panoramanya di beberapa perbukitannya sangat indah dan menakjubkan. Hampir tidak ada daratan di wilayah itu yang mempunyai panorama alam seindah seperti di Jailan. Dalam kitab Al Marasid, Al-Baghdadi menulis, Jailan masuk dalam kawasan Gilan, yang terletak di seberang daerah Tabaristan dan pantai selatan Laut Kaspia. Saat ini Gilan termasuk dalam wilayah Iran.

Di daerah yang subur inilah Syekh Abdulkadir - yang nasabnya sampai ke Rasulullah Saw. sebagai keturunan kesepuluh - tumbuh sampai berusia 18 tahun. Adapun nama lengkapnya, Muhyiddin Abu Muhammad Abdulkadir bin Abi Shalih Musa (Zonki Dost) bin Abu Abdillah Al-Jily bin Yahya bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Tentang sosoknya, Ibnu Syati' menulis dalam kitab Thabaqat Muhtasar al-Hanabilah, Syekh Abdulkadir berperawakan sedang dan berdada bidang. Kulitnya agak hitam, jenggotnya tebal dan panjang, alisnya tebal, suaranya tegas, pembawaannya menawan, berwibawa dan berilmu agama luas.

Syekh Abdulkadir mendapat beberapa gelar kehormatan. Pertama, Muhyiddin was Sunnah, artinya tokoh yang menghidupkan agama dan sunah, mencerminkan perannya sebagai pembela agama dan pembimbing umat untuk mengikuti sunah Nabi Saw. kedua, Mumitul Bid'ah, yang berarti tokoh yang menghapuskan bid'ah atau penyimpangan dalam agama dan berbagai perbuatan yang tidak sejalan dengan sunah Nabi.

Ketiga, Al-Imamuz Zahid, pemimpin yang zuhud dalam kehidupannya, mencerminkan reputasi Syekh Abdulkadir sebagai tokoh sufi yang memandang dunia dan kehidupan sebagai modal untuk meningkatkan kualitas rohaniah, meraih nilai keabadian, dan mendapatkan kebahagiaan ukhrawi. Keempat, Al-Ariful Qudwah, gelar untuk seorang tokoh yang termasyhur dan menjadi suri teladan. Gelar ini mencerminkan tingkat kesufian yang tinggi. Tingkat tertinggi yang disebut Al-Arif Billah, orang yang sangat mengenal Allah.

Kelima, Syaikhul Islam. Gelar ini lazim diberikan kepada ulama fikih yang berwenang memberikan fatwa. Diberikan kepada Syekh Abdulkadir karena ketokohan dan wawasannya yang luas. Sebagaimana gelar yang juga kepada Ibnu Taimiyah. Keenam, As-Sultanul Awlia, pemimpin para wali. Ketujuh, Al-Asfia, yang bisa diartikan juga sebagai imam pemimpin para sufi.

Syekh Abdulkadir Jailani terkenal sebagai ulama yang gemar berburu ilmu. Untuk memperdalam pengetahuan agamanya itulah, pada 488 H/1095 M ia ke Baghdad buat belajar. Sebelum berangkat, ibunya membekalinya delapan keping emas - warisan almar ayahandanya - dalam sebuah kantung kecil yang dijahitkan pada mantel yang dikenakannya. Ibunya berpesan singkat, ”Jangan berdusta dalam segala hal.”

Pada 521 H/1127 M, Syekh Abdulkadir mulai mengajar dan berdakwah. Majelis taklimnya dihadiri puluhan ribu jemaah. Karena jumlah jemaah semakin banyak, ia pun memindahkan majelis taklimnya ke luar Baghdad. Menurut Al-Barzanji, Syekh Abdulkadir menguasai 13 ilmu pengetahuan. Dalam berfatwa ia selalu menggunakan dua mazhab, yaitu Syafi'i dan Hambali. Ia memang terkenal sebagai fukaha yang sangat menguasai ilmu fikih.

Ketinggian ilmu fikihnya dibuktikan dengan keunggulan Syekh Abdulkadir ketika menghadapi 100 orang ulama Baghdad dalam sebuah diskusi. Hasilnya, Syekh Abdulkadir berhasil meyakinkan para ulama tersebut. Menurut Abu Hasan An-Nadwi dalam kitab Rijatul fikr wa Da'watul Islam, Syekh Abdulkadir, yang menguasai belasan ilmu agama, sangat sibuk mengajar. Madrasahnya ia mengajar ilmu tafsir hadits, ilmu tentang mazhab, ilmu Ushul fiqh, nahu saraf, ilmu qiraat Al Qur'an, fikih dari sudut Mazhab Syafi'i dan Hambali.

Adapun kehidupan tasawufnya dimulai setelah ia mendapat restu dari sufi besar Yusuf Al-Hamadani. Maka, pada 528 H/1108 M Syekh Abdulkadir mendirikan madrasah dan ribath (semacam pesantren untuk menyendiri ) di Baghdad. Sementara madrasahnya berkembang pesat, ketika itulah muncul gagasan-gagasannya mengenai tarekat - yang kemudian disebut tarekat Qadiriyah

Pengaruh Tarekat Qadiriyah membentang dari Afrika, Asia, sampai Eropah. Dalam kitab Al-Salsabil al-Mu'ayan di Tharaiq al-Arbain, antara lain disebutkan, Tarekat Qadiriyah dibangun atas dasar dzikir bersuara (bil jahr) dalam latihan yang bersungguh-sungguh di majelis iktikaf, bertahap mengurangi makan, dan mengasingkan diri dari keramaian.

Sejak awal, amalan tarekat ini disertai dengan upaya menghadirkan kebesaran Allah Swt. dalam Qolbu. Dengan cara seperti itu, diharapkan kebersihan jiwa bisa terpelihara dan terjaga. Sebab pendidikan melalui keagungan Allah Swt. dapat menghapus kegalauan jiwa.

Menurut Syekh Abdulkadir Jailani, seorang pemula harus memiliki akidah yang benar, akidah yang dianut oleh ulama salaf. Ia juga harus berpegang teguh pada Al Qur'an dan Sunnah, mewujudkan perintah dan larangan agama dalam perilakunya, jujur dan bersungguh-sungguh hingga memperoleh hidayah Allah Swt.

Tarekat ini juga sangat mementingkan sikap jiwa yang luhur, yaitu ketulusan hati, kemurahan jiwa kesungguhan niat, meninggalkan permusuhan dan pertikaian, menjaga persaudaraan, selalu memberi nasihat, mendahulukan kepentingan bersama, gemar membantu dalam urusan agama dan dunia.

Tarekat Qadiriyah mempunyai beberapa karakter. Yang paling menonjol ialah ketundukan pada ketentuan takdir Allah Swt. dengan menyesuaikan hati dan ruh, menyatukan sikap lahir dan batin, memisahkan kecenderungan nafsu; mengabaikan keinginan melihat manfaat dan mudarat. Boleh dibilang, tarekat ini adalah pemurnian akidah dengan meletakkan diri pada sikap ibadah.

Dalam pada itu, mufasir Ibnu Katsir menyebutkan sebagai ulama yang tangguh dalam berlaku amar makruf nahi mungkar, menjalani kehidupan zuhud dan warak, serta sufi yang disegani. Bisa dimaklumi jika ulama besar seperti Ibnu Taimiyah menegaskan, tarekat yang diajarkan oleh Syekh Abdulkadir dibenarkan oleh syara',agama.

Bagaimana sikap Syekh Abdulkadir sendiri terhadap tasawuf, yang juga marak di jamannya? Sikapnya sangat jelas; ia menentang ajaran tasawuf yang meninggalkan syari'at, dan menyerukan agar tarekat tetap berjalan di bawah kontrol syari'at, berpegang pada Al Qur'an dan sunah. Ia juga menyeru kepada sahabat-sahabatnya agar tidak berbuat bid'ah. Sebaliknya ia menentang orang yang berkeyakinan bahwa kewajiban syara' pada para pengamal tarekat gugur pada keadaan tertentu. Menurutnya, meninggalkan kewajiban agama berarti zindiq (memahami hukum agama tetapi tidak konsekuen dalam pelaksanaannya) atau maksiat. Syekh Abdulkadir menegaskan, tidak ada kewajiban agama yang gugur pada seseorang dalam keadaan tertentu.

Itulah sikap Syekh Abdulkadir Jailani dalam hal agama. Begitupula sikapnya tentang kebenaran dan keadilan, juga sangat jelas. Ia, misalnya, pernah mengkeritik Khalifah Al-Muktafi (531H/1136M-555H/1160M) dari Dinasti Bani Saljuk yang menindas rakyat. Dalam sebuah pidatonya, Syekh Abdulkadir menyatakan, Khalifah Al-Muktafi telah melanggar hak-hak rakyat dengan mengangkat seorang hakim yang dzalim. Mendengar pidato yang sangat tajam itu, Khalifah Al-Muktafi pun segera memberhentikan hakim yang tidak adil tersebut.

Syekh Abdulkadir Jailani wafat pada 11 Rabiul akhir 561 H/1166 M dan dimakamkan di Baghdad.

🙏

”Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkannya menempuh jalan ke surga.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibn. Majah).