HAKIKAT JIHAD.

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
اَلْسَّلَا مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَق اٰدَمَ بِيَدِهٖ مِنْ طِيْنٍ ؛ ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِِنْ رُوْحِهِ وَجَعَلَ لَهُ الْسَّمْعَ وَاْلْاَبْصَارَوَاْلآفْــِٔدةَ فَسَّبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ، وَاَثْـهَدُ اَنْ لآَ اللّٰهَ اِلآّ اللّٰهُ اَوْدَعَ فِى اْلاِنْسَانْ اُلعَقْلَ لِيُمَيِّزَ بَيْنَ الضَّارِوَالنَّافِعْ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًارَسُوْلُ اللّٰهِ جَاءَنَا بِالنُوْرِ السَّاطِعِ واْلبُرْهَانِ اْلقَاطِعُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِ نَامُحَمَّدٍ وَعَلٰٓى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ اَمَّابَعْدُ فَيَاعِبَادَاللّٰهِ ااُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ اَوَّلاً بِتَقْوَى اللّٰهِ تَعَالٰى وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِخُوْنَ.
Perintah berjihad :
Hadirin rahimakumullah
Allah Swt, memerintahkan kaum Muslim supaya berjihad (berjuang) pada jalan yang diridhai-Nya. Dalam Al-Qur'an ada lebih kurang 40 kali disebut-sebut perkataan jihad atau bentuk perkataan-perkataan lainnya yang berasal dari kata pokok jahada itu. Salah satu di antaranya Allah menyatakan:
اِنَّـمَـااْلمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُـمَّ لَـمْ يَـرْتَـابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَا لِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اُولِٰٕٓـكَ هُـمُ الصّٰدِقُوْن (الحجرات)
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-nya, tanpa keraguan sedikitpun dari mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (Q.S. Al-Hujuraat:15)
Pengertian jihad :
Hadirin rahimakumullah.
Apakah yang dimaksud dengan istilah jihad itu? Ternyata masih banyak orang yang keliru memahami hakikat jihad. Mereka mengira bahwa yang dimaksud dengan jihad itu hanyalah perang saja. Padahal pengertian yang umum tentang kata-kata jihad itu ialah berjuang dengan sungguh-sungguh. Allah telah berfirman dalam Al Qur'an:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْافِيْنَا لَْنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَاِنَّ اللّٰهَ لَٔمَعَ اْلمُحْسِنِيْنَ. (العنكبوت:٦٩)
" Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk mencari (keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Ankabuut:69).
Pengertian yang keliru atau sengaja "dibuat keliru" itu terutama terdapat di kalangan kaum orientalis yaitu kaum terpelajar bangsa Eropa yang mempelajari dan menyelidiki ajaran-ajaran Islam untuk kepentingan ilmiah dan politik, bukan untuk di imani dan di taati. Sebagai salah satu bukti konkret ialah uraian dalam "Shorter Encyclopaedia of Islam" karya H.A.R. Gibb dan JH. Kramers, yang mengatakan: "Jihad, holy war. The spread of Islam by arms is a religius duty upon Muslims in general" (Jihad ialah perang suci. Menyebarkan Islam dengan senjata pada umumnya adalah suatu tugas keagamaan bagi orang muslim).
Seperti diketahui bahwa di dalam Al-Qur'an hanyalah pada beberapa ayat saja dijumpai kata-kata jihad dengan arti perang. Untuk pengertian perang dalam Al-Qur'an pada umumnya dipakai kata-kata qital.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ اْلقِتَالُـــ وَهُوَكُرْهُ لَّكُمْ البقرة
"Diwajibkan atas kamu berperang, walaupun berperang itu sesuatu yang kamu benci." (QS. Al Baqarah: 216).
Dan ayat-ayat mengenai jihad itu sudah diturunkan tatkala Rasulullah Saw. masih berada di Mekah pada waktu kaum Muslim belum diperkenankan mengangkat senjata untuk mempertahankan agama Islam. Setelah hijrah ke Madinah barulah turun ayat-ayat tentang perang (qital) itu, yang memperbolehkan kaum muslim berperang. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an:
اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَـاتَلُوْنَ بِاَنَّهُمْ ظُلِمُوْااَوَاِنَّ اللّٰمَ عَلٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيْرٌ. اَلَّذِيْنَ اُخْرجُوْا مِنْ دِِيَارِهِمْ بِغَــيْرِ حَقٍّ اِلآَّ اَِنْ يَّقُوْ لُوْاَرَبُّنَااللّٰهُ... الحج: ٣٩-٤٠
"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah teraniaya dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk menolong mereka yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa adanya alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata," Tuhan kami adalah Allah ". (QS. Al Hajj: 39-40).
Jadi motif perang itu ialah:
- Karena dianiaya, diperlakukan sewenang-wenang.
- Diusir dari kampung mereka dengan cara kejam.
Kenyataan bahwa ayat-ayat jihad itu sudah lebih dahulu turun di Mekah sebelum turun ayat-ayat yang berkenaan dengan qital (di Madinah) hal ini menunjukkan bahwa pengertian secara umum tentang kata-kata jihad itu bukanlah perang, melainkan berjuang dengan sungguh-sungguh.
Seorang ulama terkemuka Syarif Ali Muhammad Al Jurjani ketika mendefinisikan jihad dalam kitabnya At-Ta'rifat berkata:
اَلْجِهَادُ هُوَا لْدُّعَــاءُاِلَى الْدِّيْنِ اْلْحَقِ.
" Jihad ialah mengajak manusia kepada ajaran yang benar. " (baca kitab: At-Ta'rifat, halaman 80).
Imam Raghib Al-Ashfahani dalam kitabnya Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an menerangkan bahwa jihad itu mempunyai 3 (tiga) macam tingkatan yaitu:
1. Jihad terhadap diri sendiri.
2. Jihad terhadap setan.
3. Jihad terhadap musuh yang nyata.
2. Jihad terhadap setan.
3. Jihad terhadap musuh yang nyata.
Baiklah kita uraikan secara singkat satu persatu!
1. Jihad terhadap diri sendiri
Jihad terhadap diri sendiri itu ialah jihad terhadap hawa nafsu. Seperti diketahui hawa nafsu itu semacam musang berbulu domba di dalam badan manusia. Dia selalu menyeret manusia ke jalan yang sesat. Perjuangan melawan hawa nafsu itu merupakan perjuangan yang berat, lebih berat dibanding menghadapi pasukan di Medan tempur. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda:
اَفْضَلُ الْجِهَادِ اَنْ يُجَاهدَالرَّجُلُ نَفْسَهُ وَهَوَاهُ.
"Seutama-utamanya berjihad adalah melawan hawa nafsunya. (HR. Ibnu Najjar dari Abu Dzar).
2. Jihad terhadap setan
Perjuangan melawan setan itu sudah terjadi sejak dunia berkembang, yang pertama digodanya ialah Nabi Adam dan Siti Hawa sehingga keduanya dikeluarkan oleh Allah dari surga, kemudian sesudah kesalahan mereka diampuni, lalu Nabi Adam dijadikan Khalifah di muka bumi. Bersamaan dengan itu diperkenankanlah permintaan setan untuk berkecimpung di dunia ini dengan tugas khusus yaitu menggodanya manusia supaya mereka menjadi temannya kelak di dalam api neraka. Allah telah menjelaskan:
اِنَّ لْشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوُّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا اِنَّـمَايَدْعُوْاحِزْبَـهُ لِيَكُونُوْاو مِنْ اصْحٰبِ السَّعِيْرِ. فاطير :٦
" Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikan ia musuh (mu) karena setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala."(QS. Al Fathir).
Setan, sebagaimana Allah telah menjelaskan dalam Al Qur'an di akhir surat An Naas (ayat 6), terdiri atas golongan jin dan golongan manusia: "Minal Jinnati wan-Naas". Yang pertama, yakni setan dari golongan jin, dia tidak tampak oleh mata. Pekerjaannya ialah berusaha dengan keras untuk mendorong manusia ke jalan yang tidak baik, yang kedua, yakni setan yang berbentuk manusia. Pekerjaannya tidak hanya dapat berbuat seperti setan jin, akan tetapi dapat pula melakukan tindakan-tindakan yang langsung mempengaruhi manusia, seperti melakukan intimidasi, gangguan-gangguan fisik, sogokan-sogokan yang berupa material dan wanita cantik.
3. Jihad terhadap musuh yang nyata
Jihad terhadap musuh yang nyata itu pada dasarnya terdiri atas tiga macam. Pertama, jihad terhadap perbuatan-perbuatan yang merusak (destruktif) masyarakat dan merugikan orang lain, seperti kemaksiatan, kekejaman, kesewenang-wenangan dan sebagainya. Jihad ini dinamakan juga jihad dakwah.
Jihad dakwah itu harus dilakukan terhadap segala bentuk pelanggaran, penyelewengan, kejahatan dan sebagainya. Tentu saja tidak boleh dilakukan secara anarkis, semua harus sesuai dengan cara-cara yang dibenarkan oleh hukum.
Kaum muslimin tidak boleh diam melihat kemaksiatan merajalela, tidak boleh berpangku tangan menonton perbuatan sewenang-wenang, kekejaman dan lain-lain.
Rasulullah Saw. telah bersabda:
مَنْ رَاَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذٰلِكَ اَضْعَفُ اْلاِيْمَانِ رواه مسلم من ابىسعيد الخدرى
"Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka ubahlah ia dengan tangannya, jika ia tidak mampu, maka ubahlah Dengan lidahnya, jika ia tidak mampu juga, maka ia harus membencinya dengan hatinya dan yang demikian itu merupakan selemah-lemahnya iman. (HR. Imam Muslim dari abu Sa'id Al Khudri).
Kedua, jihad terhadap seorang penguasa yang melakukan perbuatan tidak adil. Kaum muslim harus memperingatkannya menurut cara-cara yang wajar. Tindakan menegur itu termasuk Jihad, seperti dijelaskan dalam salah satu hadits:
اَفْضَلُ اْلجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَـأِلرٍ. رواهاين ماجه عن ابى سعيد الخدرى
" Jihad yang paling mulia adalah mengemukakan perkataan yang bijak terhadap penguasa yang dzalim". (HR. Ibnu Majah dari Abu Sa'id Al Khudri).
Dan yang ketiga adalah jihad terhadap kaum musyrik (kafir harbi bukan kafir dzimmi) yang menyerbu dan memerangi kaum muslim. Ketika kaum muslim berjihad melawan mereka dengan penuh keberanian, tidak boleh takut dan menjadi orang pengecut. Allah telah berfirman dalam Al Qur'an:
وَقَاتِلُوالْمُشْرِ كِيْنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ اْلـمُتَّقِيْنَ. (التوبة :٣٦)
"Dan perangilah kaum musyrik itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa". (QS. At-taubah: 36).
Jihad dalam Islam mempunyai arti yang luas:
Hadirin rahimakumullah.
Dengan mengikuti uraian tadi nyatalah bahwa pengertian jihad dalam Islam tidak hanya semata-mata perang melawan kaum musyrik dan kafir, akan tetapi berjuang melawan hawa nafsu, melawan godaan setan, memberantas segala kemungkaran, bahkan berani bicara dengan bijak dan benar di hadapan penguasa yang dzalim.
Di akhir khotbah ini saya ingin mengajak Saudara-saudara kaum muslim, mari kita berjihad dalam arti berjuang secara luas, karena sesungguhnya hidup itu adalah perjuangan. Tepat sekali kata seorang penyair dari Mesir yang bernama Ahmad Syauqi dalam salah satu bait syairnya:
قِفْ دُوْنَ رَاْيِكَ فِى الْحَيَاةِ مُجَاهِدًا اِنَّ الْحَيَاةَ عَقِيْةٌ وَجِهَادٌ.
Bangkit dan bangunlah berjuang dalam hidup ini, karena sesungguhnya hidup itu adalah ideologi dan penuh perjuangan.
بَارَكَ اللّٰهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى اْلقُـقُرْاٰنِ اْلعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاٰيٰتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمُ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُٓ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. وَاَسْتَغْفِرُاللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِوَالِدَ يَّ وَلِدَيْكُمْ وَلِـسَآءِرِ اْلمُسلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ فَيَافَوْزَ اْلمُستَفِرِيْنَ وَيَانَجَاةَالتَّآءِبِيْنَ.
“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya” (Hadits shahih diriwayatkan oleh ibnu Najjar dari Abu Dzarr).
