HUKUMAN ALLAH TERHADAP BANI ISRAIL.

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
وَقَضَيْنـَآ اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَآءِيْلَ فِى اْلكِتٰبِ لَتُفْسِدُنَّ فِى الْاَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيْرًا.
Dan Kami tentukan kepada Bani Israil di dalam Kitab itu, "Sungguh kamu akan berbuat kerusakan di muka bumi dua kali dan kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar". (QS. Al-Israa': 4).
Bertumpuk dan datang silih berganti nikmat dan rahmat Allah atas bangsa Israil. Mereka dilepaskan Allah dari berbagai-bagai azab dan siksa. Diutus-Nya kepada mereka beberapa Nabi dan Rasul, untuk melepaskan dari berbagai azab dan siksa itu, guna membimbing mereka ke jalan yang benar, sehingga mereka dengan pimpinan para Nabi dan Rasul itu, mendapat kemakmuran dan kemajuan yang luar biasa, penuh dengan kehidupan yang bahagia dan senang menjadi pemimpin atas dunia ini. Sungguhpun begitu mereka senantiasa berpaling juga dari jalan yang benar dan baik itu.
Setiap kali mereka mendapat kecelakaan dan kesengsaraan yang luar biasa, menginginkan pimpinan dan Nabi. Setelah mereka aman dan bahagia kembali dengan pertolongan pemimpin dan Nabi itu, kembali mereka tak mengakui akan Nabi itu, mereka lupakan segala nikmat dan rahmat Allah itu, bahkan para pemimpin dan Nabi itu banyak pula yang mereka bunuh, lalu mereka kembali kepada kesesatan dan berbagai-bagai kejahatan.
Kalau mereka sudah tersesat dan durhaka, mereka tidak dapat lagi dibelokkan ke arah kebenaran hanya dengan peringatan-peringatan dan ajaran-ajaran dari Allah saja, bagaimana juga benarnya peringatan dan ajaran itu, mereka tetap menolaknya, bahkan mereka ludahi. Hanya dengan siksaan jualah yang dapat membetulkan kembali tindakan mereka itu. Oleh sebab itu Tuhan mengirimkan berbagai-bagai siksaan, untuk membetulkan tindakan mereka yang salah itu.
Sejak dahulu kala Tuhan menurunkan berbagai-bagai siksa dan azab terhadap Bani Israil.
Tetapi kini mereka telah melupakan pula akan semua azab dan siksaan Allah itu, mereka bertindak dengan berbagai-bagai kejahatan itu telah demikian rupa pula hebatnya, sehingga tidak dapat dibiarkan begitu saja, Tuhan mengutus pula kepada mereka seorang Nabi, Armiya namanya.
Nabi ini dengan seluruh tenaga dan daya yang ada padanya, berusaha keras untuk mengembalikan. Diperingatkan oleh Nabi ini, akan ajaran-ajaran para Nabi Rasul yang telah meninggal dunia. Diperingatkan kepada mereka akan ajaran-ajaran Kitab-kitab suci yang telah diturunkan Allah dengan perantaraan Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul itu. Diperingatkan pula akan azab dan siksa bagi bangsa-bangsa yang telah mendurhakai ajaran-ajaran yang benar itu.
Ingatlah kepada siksaan yang menimpa raja Namrud dan Fir'aun, ingatlah akan siksaan yang ditimbulkan oleh tentara Sanharib yang telah menghancur luluhkan negeri Babil dan rakyatnya! Ingatlah akan berbagai-bagai azab yang merupakan angin topan dan hujan batu, yang merupakan pula berbagai-bagai penyakit menular, tha'un, udara yang panas terik dan lain-lainnya! " demikianlah Nabi Armiya memperingatkan kepada mereka; tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan memperhatikannya.
Tuhan tidak akan henti-hentinya pula menurunkan siksa dan azab Nya, selama manusia tidak bosan-bosannya berbuat kejahatan dan kesesatan.
وَاِذَا اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَـا مُــتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا اْلقَوْلُــــ فَدَمَّرْ نٰهَا تَدْمِيْرًا.
Dan apabila Kami menghendaki untuk membinasakan suatu negeri, Kami menyuruh orang-orang yang hidup mewah (supaya ta'at kepada Allah) lalu mereka berbuat kedurhakaan dalam negeri itu, maka benarlah berlaku atasnya ketentuan Allah (siksa-Nya), lalu Kami menghancurkan sehancur-hancurnya. (QS. Al-Israa' : 16).
Terhadap bangsa Israil yang sudah tidak mau dinasehati itu, tidak ada gunanya nasehat lagi. Lalu Tuhan utus kepada bangsa itu tentara yang paling kejam, yang dipimpin oleh seorang raja dan jenderal yang lebih kejam, yaitu tentaranya Nebukadnezar (Bathtanasar) yang termasyhur itu.
Dari arah timur, tentara ini menyerbu dengan jumlah yang sangat besar, belum ada tentara di dunia ini yang lebih besar jumlahnya dari tentara Nebukadnezar ini, seakan-akan gelombang demi gelombang, banjir demi banjir, mereka menyerbu dan terus menyerbu. Tidak ada sebuah kekuatanpun di atas dunia ini yang dapat menghalanginya, siapa saja yang melawan dibunuh mati, rumah-rumah, gedung dan kota-kota dihancurkannya sampai rata dengan tanah. Bangsa Israil yang masih tetap tinggal hidup, sebagai sisa pembunuhan dan penyembelihan, semuanya dikumpulkan menjadi tawanan, lalu dibuang jauh dari negeri mereka sendiri. Kota Baitil Maqdis dan rumah sucipun disapu bersih, sehingga hilang kehormatannya sama sekali. Semua Kitab-kitab sucipun mereka bakar sampai habis.
Lama pula konon masanya Nebukadnezar menguasai negeri Bani Israil, sampai kepada beberapa turunan, dengan segala kekejamannya yang tidak ada tolok bandingannya. Akhirnya kerajaan kejam ini semakin lemah, hilang kekuatannya, sehingga tak sanggup berdiri lagi.
Kekuasaan di seluruh Babilon dan bangsa Israil, akhirnya dipegang oleh seorang raja yang baik hati, lemah lembut dan suka bergaul dengan rakyat.
Dengan tenang raja ini mendidik dan mengumpulkan serta memerintah bangsa Israil yang sudah hancur lebur dan cerai berai itu.
”Kita ini adalah bangsa yang terhormat, keturunan Nabi Ya'qub dan anak cucu Nabi Daud yang maha besar. Tanah air kita adalah Syam, yang penuh dengan sumber-sumber kekayaan. Kita adalah bangsa yang merdeka dan kuat dahulunya. Tetapi karena kesalahan-kesalahan kita sendiri, kita dapat diusir musuh dari tanah air kita itu, karena kita tidak mau tunduk kepada peraturan, ingin menurutkan kemauan sendiri-sendiri saja. Sekarang marilah kita bersatu, mengumpul tenaga dan kekuatan kembali ke tanah air kita yang sudah lama kita tinggal itu! ”
Karena sudah mengalami benar-benar bagaimana pahit dan getirnya terusir dari tanahair sendiri, menjadi tawanan dan budak belian, dengan kerja paksa yang berat dan hina dina, maka apa yang diucapkan oleh pemimpin itu, sangat meresap dalam kalbu jiwa mereka.
Dengan keinsyafan inilah mereka kembali bersama-sama ke tanah airnya sendiri, tanah Syam (Palestina). Dengan kegiatan bekerja dan persatuan yang teguh, bangsa dan kerajaan Israil berdirilah meliputi tanah Syam. Mereka hidup dengan baik dan berketurunan yang banyak, sehingga berdirilah pula kebun-kebun yang luas, kota-kota yang besar, desa-desa yang aman dan penuh dengan kebahagiaan. Seharusnya mereka bersyukur atas semua nikmat dan rahmat Tuhan itu. Tetapi setelah hidup senang dan bahagia, mereka kembali melupakan Tuhan. Kembali menurut kehendak diri sendiri. Mereka lupa akan segala pengalaman dan penderitaan mereka selama terusir, malah masing-masing dirinya yang sudah senang dan kaya itu merasa sudah kuasa dan takkan mau tunduk pula kepada kebenaran lagi.
Begitulah jiwanya bangsa Israil itu. Dengan gampang mereka naik sesudah jatuh, tetapi dengan gampang pula mereka lupa daratan, sehingga berbuat jahat dan sewenang-wenang lagi. Kalau mereka sudah menjadi jahat kembali, maka tidak ada kata-kata dan ajaran yang dapat menginsafkannya kembali. Mereka hanya bisa insaf kembali kalau sudah dikutuk dengan siksa yang sehebat-hebatnya.
Masyarakat mereka yang sudah mulai aman dan bahagia, sekarang mulai kacau kembali. Penuh sesak dengan berbagai-bagai kejahatan dan kemesuman. Orang-orang suci dan para Nabi yang diutus Tuhan untuk memimpin mereka, bukan hanya mereka tolak dan hinakan saja, bahkan banyak pula mereka bunuh. Dua Nabi suci yang paling penyantun, yaitu Nabi Zakaria dan Nabi Yahya menjadi korban keganasan mereka.
Bangsa Israil kembali menjadi bangsa yang haus akan darah. Riwayat berulang, bukan sekali ulang, tetapi berkali-kali. Terhadap mereka dikirim Tuhan tentara kejam yang jauh lebih kejam dari tentara Nebukadnezar, yaitu tentara Yudarz. Tentara itu tanpa memberi peringatan sama sekali, lalu menyerang seluruh negeri dan bangsa Israil dari segala jurusan. Dengan kekuatan tentara yang jauh lebih banyak, dengan kekejaman yang jauh lebih hebat. Tanah Syam yang didiami bangsa Israil itu mereka hancur leburkan menjadi abu. Rakyatnya mereka sembelih dan dikoyak-koyak sebagai harimau menerkam mangsanya.
Bangsa dan negara Israil kembali hancur lebur. Sebagian besar mereka musnah dan sebagian kecil saja dapat meloloskan diri dari maut, lari kemana-mana saja ke timur dan ke barat, tidak keruan sama sekali.
Begitulah nasibnya negara dan bangsa yang telah mendapat cap kemarahan dari Allah. Itu disebabkan karena ingkar akan ajaran-ajaran Allah, membunuh dan membinasakan para Nabi dan Rasul Allah, dan semua itu karena kemaksiatan mereka yang melampaui batas, sehingga siksaan Tuhan datang dengan melampaui batas pula hebatnya.
"Maka orang-orang yang zalim di antara mereka mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 162)
