KISAH AGUNG ISKANDAR ZULKARNAIN (ISKANDAR MAKDUNI).

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Dia dilahirkan di Macedonia. Kepadanya dikaruniakan Allah otak yang encer, pikiran yang panjang dan berbagai-bagai ilmu pengetahuan: ilmu perang (militer), ilmu politik (pemerintahan) dan ilmu teknik dan kimia.
Tentang nama sebenarnya dari Iskandar Zulkarnain, pendapat yang paling kuat menyatakan bahwa namanya adalah ash-Shaâ bin Zu Maratsid seperti yang diungkapkan al-Allamah al-Maqrizi, al-Allamah Ibnu Qayyim, Ibnu Hisyam dan Wahb bin Munabih. Nama lain yang dipercaya sebagai nama asli Zulkarnain adalah Afridun bin ad-Dhahhak, Mushâab bin Abdullah dan Marziban bin Marziban al-Yunani.
Sejarah dan mitos tentang kedigdayaan Imperium Alexander Agung telah menjadi cerita yang legendaris baik melalui cerita rakyat, kepercayaan agama tertentu bahkan tulisan-tulisan mengenai sejarah. Dalam dunia Islam dan budaya Arab ada kepercayaan tersendiri mengenai sosok Alexander Agung atau yang dalam bahasa Arab disebut Iskandar bin Filqus. Kisah Alexander The Great banyak terhubung dengan tokoh yang dibicarakan dalam Al Qur'an yang bernama Zulkarnain atau lebih populer dengan Iskandar Zulkarnain.
Terlepas dari kontroversinya di kalangan ulama dan ahli sejarah Islam, perdebatan tentang Iskandar Zulkarnain, menurut Abu Ubaidah merupakan suatu hal yang tidak perlu diperdebatkan. Abu Ubaidah menambahkan bahwa yang perlu menjadi perhatian kaum mukmin adalah Zulkarnain (yang disebutkan dalam Al Qur'an) adalah seorang hamba Allah yang saleh dimana Allah tidak memberikan kepada Zulkarnain, sesuatu yang tidak pernah diberikan kepada orang lain.
اِنَّـامَكَّنَّـالَهُ فِى الْاَرْصِ وَاٰتَيْنَهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبَـا .
Sesungguhnya Kami telah memberikan kedudukan baginya di bumi dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (memperoleh) segala sesuatu. (QS. Al-Kahfi: 84).
Dari semenjak dia masih kecil, hatinya sudah tidak enak melihat perang yang selalu timbul antara Timur (kerajaan Persia) dengan Barat (kerajaan Rum). Perang yang tidak henti-hentinya dari tahun ke tahun, malah dari abad ke abad, yang telah menewas ribuan manusia dan merusakan, menghancurkan banyak harta kekayaan.
Untuk menghindarkan perang antara Timur dengan Barat yang sudah bertradisi ini, dia menginginkan mendirikan sebuah kerajaan besar, yang meliputi timur dan barat.
Padanya terdapat segala syarat-syarat untuk menyampaikan maksud dan tujuan hidupnya yang maha besar itu. Selain dia orang yang baik, berakhlak yang tinggi berilmu pengetahuan tentang kemiliteran, tentang pemerintahan dan teknik, telah dapat membawa dia sampai dipantai cita-citanya.
Mula-mula sekali dengan tentaranya yang lengkap kuat, dia menuju ke Barat (Magrib atau Maroko), tempat terbenam matahari. Di situ dilihat matahari terbenam di mata air yang bertambah hitam, yaitu Samudera Atlantik sekarang ini.
Di situ didapatnya satu bangsa yang terlalu ingkar kafir, hebat sekali kerusakan dan kejahatan yang ditimbulkan bangsa itu. Bukan saja merusakkan permukaan bumi dan mengacaukannya tetapi juga sudah menjadi tabi'at mereka suka membunuh orang-orang yang tak bersalah sekalipun.
Sebelum melakukan tindakan, terlebih dahulu Zulkarnain menadahkan tangannya ke langit, memohon petunjuk kepada Allah, tindakan sebaiknya yang harus dilakukan terhadap bangsa yang begitu kejam. Apakah bangsa itu akan digempurnya habis-habisan, atau akan dibiarkan begitu saja?
Tuhan menyuruh pilih kepada Iskandar Zulkarnain salah satu di antara dua tindakan: digempur habis-habisan sebagai balasan atas kekejaman mereka selama ini, atau diajar dan dididik dengan propaganda, agar mereka kembali kepada kebenaran dan meninggalkan segala kejahatan.
Akhirnya Iskandar Zulkarnain memutuskan, akan menggempur mereka yang durhaka dan jahat sehebat-hebatnya dan membiarkan serta melindungi orang-orang yang baik di antara mereka. Kepada bangsa itu, Iskandar Zulkarnain lalu mengucapkan kata-katanya yang ringkas: "Siapa yang aniaya, akan kami siksa dan dikembalikan kepada Tuhan, agar Tuhan memberi siksa yang lebih hebat lagi. Adapun orang-orang yang saleh dan baik, akan kami lindungi serta diberi ganjaran-ganjaran dan kepadanya kami hanya akan perintahkan kewajiban-kewajiban yang ringan saja".
Tentaranya segera bergerak, menewaskan setiap orang yang kejam, melindungi setiap orang yang baik. Akhirnya negeri itu dapat diamankan dan ditenteramkan, serta diatur sebaik-baiknya, penuh dengan kehidupan bahagia dan makmur.
Karena kewajiban terhadap bangsa dan negeri itu sudah selesai, Iskandar Zulkarnain dengan tentaranya lantas menuju ke arah Timur (India). Dilihatnya matahari terbit atas bangsa yang masih hidup telanjang (bangsa Hindustan).
Bangsa dan negeri itupun dapat ditaklukkannya, diamankan dan ditenteramkannya, serta diatur sebaik-baiknya, sehingga setiap orang dapat merasakan hidup aman dan tenteram, bahagia dan senang pula. Bangsa itu dapat dikeluarkannya dari lembah kesesatan dan kejahilan.
Selesailah sudah kewajibannya terhadap negeri dan bangsa itu. Ia lalu menuju ke utara, ke negeri Armenia melalui Persia dan Azirbikhan. Dengan kemenangan demi kemenangan yang dicapainya selama dalam perjalanan itu, akhirnya dia sampai di tempat yang dituju. Didapatnya di situ satu bangsa yang hidup antara dua buah gunung, yaitu gunung Armenia dan gunung Azirbikhan. Iskandar Zulkarnain tidak mengerti akan bahasa yang dipakai bangsa ini. Bangsa ini didapati Iskandar Zulkarnain hidup selalu dalam ketakutan dan kekhawatiran, karena negeri mereka berbatasan dengan bangsa Yakjuj Majuj yang terkenal kejam dan kuatnya. Bukan sekali dua kali saja, tetapi sering sekali bangsa Yakjuj Majuj itu datang menyerang mereka menghancurkan apa saja yang didapatnya dan membunuh siapa saja yang dijumpainya.
Kedatangan Iskandar Zulkarnain ini, mereka sambut dengan segala kehormatan dan kegembiraan, karena mereka tahu, bahwa Iskandar Zulkarnain adalah raja yang terkuat dan raja yang seadil-adilnya di muka bumi ini.
Kepada Iskandar Zulkarnain dimintanya pertolongan, untuk melindungi diri mereka dari serangan Yakjuj dan Majuj mereka memohon agar antara negeri mereka dengan negeri Yakjuj dan Majuj, diadakan dinding raksasa yang tak dapat ditembus dan untuk keperluan ini, mereka sanggup membayar upah dan kerugian kepada Iskandar Zulkarnain.
Mendengar permohonan ini, Iskandar Zulkarnain menjawab: "Saya tidak mengharapkan upah dari kamu. Nikmat dan pemberian Tuhan ku adalah lebih berharga dari upah itu. Hanya kepadamu saya minta kaum pekerja dan alat-alatnya, besi, tembaga, batu arang dan kayu.
Iskandar Zulkarnain adalah raja muslim yang sangat berkuasa namun saleh. Daerah taklukannya membentang dari bumi bagian barat sampai timur. Ia mendapat julukan Iskandar “Zulkarnain”. “Zul”, artinya “memiliki”, Qarnain, artinya “Dua Tanduk”. Maksudnya, Iskandar yang memiliki kekuasaan antara timur dan barat. Kisah Zulqarnain terdapat dalam Al Qur'an Surat Al-Kahfi ayat 83-98.
Setelah semua itu terkumpulkan, Iskandar Zulkarnain mulai bekerja dengan pertolongan para pekerja. Mula-mula dinyalakan api dengan kayu dan batu arang, diambilnya besi, lalu dihancurkan dengan api itu. Kepada hancuran besi itu dituangkannya tembaga, sehingga menjadi satu dengan besi. Dengan bahan campuran inilah didirikan dinding raksasa antara negeri itu dengan negeri Yakjuj dan Majuj, dinding besi raksasa yang tidak dapat ditembus dan dilobangi oleh siapapun juga.
Kepada bangsa itu Iskandar Zulkarnain lalu berkata: "Dinding ini adalah rahmat dari Tuhan kepadamu, hanya Tuhanlah yang dapat menembus dinding ini, bila dikehendaki_Nya".
Dengan jalan begitu, maka aman dan tenteramlah negeri itu. Setelah Iskandar Zulkarnain dapat menaklukkan negeri-negeri lainnya di timur, di barat, di utara dan di selatan, maka kerajaannya kini meliputi: Maroko, Rum, Yunani, Mesir, Persia, dan India, sehingga merupakan sebuah kerajaan yang amat luas, yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana penduduknya kini hidup dengan aman tenteram, bahagia dan makmur.
Cita-cita Iskandar Zulkarnain telah dapat dicapai, berkat pertolongan Allah, karena dia selalu berlindung diri kepada_Nya. Tetapi sayang, setelah Iskandar Zulkarnain meninggal dunia, kerajaan yang besar dan bahagia itu menjadi terpecah-belah karena perebutan kekuasaan para pengikutnya yang ditinggalkannya.
Iskandar Zulkarnain, yang berarti raja timur dan barat, telah dapat mempersatukan kerajaan barat, menjadi suatu kerajaan yang adil dan makmur, berkat ilmu dan pengetahuannya, serta berkat dasar ketuhanan yang selalu dipegangnya teguh dalam mendirikan kerajaan besar itu.
Iskandar Zulkarnain, yang berarti raja timur dan barat, telah dapat mempersatukan kerajaan barat, menjadi suatu kerajaan yang adil dan makmur, berkat ilmu dan pengetahuannya, serta berkat dasar ketuhanan yang selalu dipegangnya teguh dalam mendirikan kerajaan besar itu.
Kita sedang menunggu berdirinya negeri itu, menunggu-nunggu kedatangan Iskandar Zulkarnain abad keduapuluh.
"Hingga ketika dia telah sampai di tempat matahari terbenam, dia melihatnya (matahari) terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan di sana ditemukannya suatu kaum (tidak beragama). Kami berfirman, Wahai Zulkarnain! Engkau boleh menghukum atau berbuat kebaikan (mengajak beriman) kepada mereka."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 86)

