Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
PEMAHAMAN TENTANG MAKRIFAT.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.


Oleh sebagian ulama, khususnya para ulama sufi, Khidir dianggap menguasai ilmu makrifat. Ilmu ini tidak kebanyakan orang menguasai. Bahkan Nabi Musa a.s. seperti yang diceritakan dalam Alquran belum menguasainya. Hanya orang-orang tertentu yang dikehendaki oleh Allah Swt. melalui proses yang berat dengan prasyarat tertentu, seperti yang telah diajarkan dalam ilmu tasawuf yang mampu menguasai.

Orang yang menguasai ilmu makrifat ini mereka telah dibukakan hijabnya yang menutupi pandangan hatinya dalam merasakan kehadiran Allah Swt. dengan kesadaran batin. Bahkan, dengan dibukanya hijab itu, seseorang akan mengetahui secara batin wujud Allah Swt. Meskipun kebanyakan orang yang sampai pada kemakrifatan, tetap tidak mampu mengungkapkan secara kata-kata, bagaimana wujud Allah Swt. Karena itu, bagaimana yang ditemui oleh seorang yang sampai pada kemakrifatan tidak akan mampu dijelaskan atau diungkapkan melalui pengetahuan akal.

Tidak hanya itu, peristiwa-peristiwa yang dirahasiakan oleh Allah Swt. pun akan mampu diaksesnya menjadi sebuah pengetahuan. Misalnya, pengetahuan tentang masa depan. Khidir menguasai ilmu ini. Hal itu telah dibuktikan dalam kisah perjalanannya bersama Nabi Musa a.s. Fakta itu yang dijadikan alasan oleh kalangan ulama sufi bahwa Khidir menguasai ilmu makrifat. Khidir terbukti mengetahui peristiwa yang belum terjadi, peristiwa yang akan terjadi pada masa mendatang terhadap kehidupan seorang anak yang telah dibunuhnya. Nabi Musa a.s. tidak mengetahui pengetahuan tersebut.

Dalam ilmu tasawuf sendiri makrifat sebetulnya adalah tingkatan maqam yang mesti diliwati bagi seorang murid yang ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui jalan tarekat. Seperti yang telah disebutkan oleh Imam Al Ghazali dalam kitabnya, Al Ihya 'Ulumuddin, bahwa ada sejumlah maqam yang harus diliwati oleh seseorang untuk menuju Allah Swt. yaitu, Tobat, Sabar, Kefakiran, Zuhud, Tawakal, Cinta (Mahabbah), Makrifat, dan Kerelaan (Rida').

Pada maqam makrifat, seseorang akan mengetahui Allah dari atau secara dekat, sehingga hati dan batinnya dapat melihat wujud Allah Swt. Makrifat sendiri berarti mengetahui Allah Swt. dari dekat sehingga hati sanubarinya dapat melihat Allah Swt. Menurut Al Ghazali, makrifat datang sebelum maqam mahabbah (cinta); tetapi menurut al Kalabadzi, makrifat terjadi setelah mahabbah. Adapula yang berpendapat bahwa makrifat dan mahabbah merupakan istilah dua yang selalu disebut bersama. Keduanya dengan kata lain menggambarkan keadaan atau hubungan yang demikian dekat dari diri seorang sufi dengan Allah Swt.

Itulah makrifat, maqam yang telah dikuasai oleh Khidir. Maka dalam konteks ini, Khidir telah sampai pada maqam makrifat. Makrifat Khidir ini yang perlu dikupas lebih jauh dan mendalam, untuk mengetahuinya. Maka, kiranya sangat penting, mengupas secara tuntas, mulai dari apa definisi atau pengertian makrifat, sampai pada hubungan makrifat dengan sosok bernama Khidir ini beserta ajaran-ajarannya.


MAKRIFAT

Perlu diketahui bahwa istilah "makrifat" itu berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata arafa, yu'rifu, irfan yang mengandung arti mengetahui, mengenal. Dalam konteks tasawuf, makrifat berarti pengetahuan tentang Allah Swt. Sebagaimana yang dipahami oleh imam Al Ghozali makrifat adalah mengetahui rahasia-rahasia Allah Swt. dan mengetahui peraturan-peraturan_Nya tentang segala sesuatu yang ada di dunia ini. Orang yang menguasai ilmu makrifat disebut dengan "arif".

Dari definisi di atas bisa dipahami bahwa makrifat adalah sebuah bentuk pengetahuan atau pengenalan. Hanya saja, pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan tentang Allah Swt. Allah Swt. mempunyai beberapa sifat dan nama-nama. Orang yang makrifat berarti telah mengetahui sifat-sifat dan nama-nama Allah Swt. Tidak cukup itu saja bahkan rahasia-rahasia dan peraturan-peraturan Allah Swt. yang tersembunyi pun bisa diketahuinya.

Bukankah ini sama dengan istilah 'ilmu'. Memang mirip, ilmu juga mengandung arti pengetahuan. Namun dalam konteks tasawuf, keduanya cukup berbeda. Makrifat dikonotasikan sebagai pengetahuan pada Dzat Allah Swt. Sedangkan ilmu dikonotasikan sebagai pengetahuan pada selai_Nya. Mengapa begitu?

Makrifat merupakan pengetahuan yang objeknya bukan hal-hal yang bersifat eksoteris (Zahiri), tetapi lebih mendalam terhadap penekanan aspek esoteris (batiniyyah) dengan memahami rahasia_Nya. Maka pemahaman ini berwujud penghayatan atau pengamalan kejiwaan sehingga tidak semua orang bisa mendapatkannya. Wajar saja bila orang-orang tertentu saja yang menguasai pengetahuan makrifat.

Setiap orang bisa menguasai pengetahuan ilmu. Pengetahuan ini melingkupi segala hal yang ada di dunia ini yang bisa diamati secara akal indrawi. Allah Swt. tidak akan mungkin bisa diketahui atau dikenal oleh manusia secara akal. Allah Swt. hanya bisa diketahui atau dikenal melalui hati yang sudah tersucikan. Tanpa itu pengetahuan tentang Allah Swt. tidak akan mampu dikuasai. Orang yang mampu menyucikan hatinya, ia akan mampu mengenal Allah Swt. Pengenalan dan pengetahuan yang didapatnya itu akan menjadikan keimanannya semakin kuat. Itulah salah satu manfaat dari pengetahuan makrifat.

Itulah definisi makrifat secara bahasa. Sekarang mari kita pahami makrifat secara istilah. Dalam pengertian istilah, makrifat mempunyai pemaknaan yang cukup beragam. Di antaranya makrifat berarti mengenal dan mengetahui ilmu secara rinci atau diartikan juga sebagai pengetahuan atau pengalaman secara langsung atas realitas Mutlak Tuhan. Pemahaman ini cukup benar apabila dikontekskan dengan arti makrifat secara bahasa. Namun, menjadi berbeda ketika makrifat dipahami sebagai tingkatan (maqam) atau hal (kondisi psikologis) seseorang yang sedang melakukan perjalanan spiritual menuju Allah Swt.

Sebagian besar ulama sufi mengatakan bahwa makrifat adalah maqam tertinggi dalam dunia sufisme. Pada pengertian di atas, makrifat secara bahasa berarti mengetahui atau mengenal. Namun, konteks tasawuf makrifat diartikan sebagai melihat Allah Swt. dengan hati nuraninya. Maka, apabila ada seorang 'salik' (penempuh jalan menuju Allah Swt.) telah mencapai derajat makrifat, pada hakikatnya dia telah sampai pada sebuah kesaksian ruhaniah terhadap Allah Swt. Pada posisi seperti ini yang terjadi adalah lenyapnya kesadaran karena tenggelam ke wujud Allah Swt., sehingga yang dirasakan hanyalah selalu bersama Allah Swt.

Pemahaman dalam konteks tasawuf di atas, bisa dipahami bahwa makrifat sebagai pengetahuan tentang ketuhanan yang dapat diperoleh melalui hati yang telah tersucikan melalui berbagai metode, misalnya melalui jalan tarekat. Pengetahuan yang diperoleh setelah seorang sufi mencapai maqam makrifat Ini sifatnya sangat mutlak. Mutlak dalam konteks ini berarti tidak ada keraguan lagi terhadap nilai kebenaran yang terkandung di dalam pengetahuan tersebut. Ini menunjukkan makrifat sebagai maqam dan makrifat sebagai ilmu pengetahuan, mempunyai keterkaitan cukup erat.

Seorang sufi yang telah mencapai maqam makrifat secara otomatis dia akan mendapatkan pengetahuan tentang Allah Swt. dan segala sesuatu yang terahasiakan. Ini yang akhirnya menyebabkan dia menjadi sangat dekat dengan Allah Swt. dan mengetahui segala sesuatu yang masih rahasia sifatnya. Meskipun begitu, dalam tasawuf tetap saja upaya penghayatan makrifat kepada Allah Swt. (makrifatullah) yang menjadi tujuan utama dan sekaligus menjadi inti ajaran tasawuf. Adapun pengetahuan tentang yang haq, itu hanyalah anugerah yang didapat karena pengenalan seorang hamba terhadap Allah Swt. yang tidak ada lagi batasan sebagai penghalang.

Itulah beberapa pemahaman tentang pengertian makrifat secara istilah. Untuk lebih memperkuat pemahaman tentang makrifat, perlu kiranya mengetahui bagaimana pendapat beberapa ulama dalam memahami apa itu makrifat. Al Husayn bin Mansur al-Halaj (w. 921 M) memberikan pemahaman bahwa makrifat adalah apabila seorang hamba mencapai tahapan makrifat, Allah Swt. menjadikan pikiran-pikirannya yang menyimpang sebagai sarana ilham dan Dia menjaga batinnya agar tidak muncul pikiran-pikiran selain_Nya. Karena itu, tanda seorang arif yaitu dia kosong dari dunia maupun akhirat. Hanya Allah Swt. yang mengisi kesadaran hidupnya.

Pemahaman ini memberi pengertian bahwa makrifat sebagai maqam atau tahapan pencapaian kedekatan seorang hamba dengan Tuhan_Nya, di mana posisi itu membuat seseorang menjadi lalai akan segala sesuatu, kecuali hanya Allah Swt. saja yang diingat. Dalam kitab Ar-Risalah Al Qusyairiyah Fi 'Ilmi al-Tashawwuf, karya Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al-Qusyairi An-Naisaburi, dituliskan pula bahwa, makrifat adalah lenyap dari segala yang lain, pada ketika tampaknya Yang Maha Esa.

Sedangkan menurut Al-Ghazali, makrifat kepada Allah Swt. (makrifatullah) mengetahui rahasia Allah Swt. dan mengetahui segala peraturan-peraturan Allah Swt. tentang segala hal yang ada. Makrifat berarti juga memandang kepada wajah Allah Swt. Menurutnya makrifah dan mahabbah merupakan tingkat tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang sufi. Sehingga, siapa yang belum mengalami hakikat 'makrifat' maka ia belum sampai kepada 'maqam tertinggi'.

Imam Al Ghazali menjelaskan kembali bahwa untuk mencapai makrifat kepada Allah Swt. harus melalui pintu gerbang (hati) yang mana pintu tersebut dapat dibuka dengan sebuah kunci (hubb), karena pada dasarnya makrifat merupakan manivestasi dari mahabbah (cinta). Oleh karenanya al-Hubb atau mahabbah adalah satu istilah yang selalu berdampingan dengan makrifat, mutunya lebih tinggi dari pengetahuan yang diperoleh melalui akal.

Di sini, Al-Ghazali memahami makrifat sebagai pengetahuan tentang Dzat Allah Swt. dan segala rahasia yang tidak mampu diakses oleh kebanyakan manusia. Hanya oleh orang yang khusus dan dipilih Allah Swt. ilmu makrifat dapat dikuasai. Pemahaman makrifat sebagai pengetahuan juga diamini Zunnun al-Misri (w. 860 M) ulama sufi yang dikenal sebagai bapak paham makrifat ini memahami bahwa ada tiga macam pengetahuan tentang Allah Swt.

  1. Pengetahuan awam, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui meniru atau taqlid.

  2. Pengetahuan ulama, yaitu pengetahuan yang didapat melalui pembuktian rasional.

  3. Pengetahuan sufi, yaitu pengetahuan melalui metode penyaksian langsung dengan langsung dengan radar pendeteksi, yaitu qalbu yang bersih dan bening.

Menurut Zunnun, pengetahuan dalam arti ketigalah yang merupakan pengetahuan hakiki tentang Allah Swt. Pengetahuan yang semacam itu disebut makrifah. Makrifah ini hanya diperoleh pada kaum sufi yang sanggup melihat Allah Swt. dengan hati sanubari mereka. Makrifah dimasukkan oleh Allah Swt. ke dalam hati seorang sufi, sehingga hatinya penuh dengan cahaya. Pemahaman seperti ini dimengerti pula al-Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Khadiry.

al-Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Khadiry memberi pengertian bahwa "makrifat adalah hadirnya kebenaran Allah (pada sufi) yang mana hatinya selalu berhubungan dengan cahaya”. Cahaya yang dimaksud di sini adalah Dzat Allah Swt. sendiri. Dalam salah satu asma'nya (nama), Allah Swt. adalah An-Nur (cahaya). Maka, berhubungan yang dimaksud adalah selalu mengingat Allah Swt. melalui Dzikir, baik secara lisan maupun dalam hati. Pemahaman ini yang kemudian diterapkan di dalam aliran tarekat yang mengajarkan kepada semua murid untuk selalu berdzikir kepada Allah Swt. dengan tujuan mendekatkan diri pada_Nya.

Sedangkan menurut Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdullah bin Ahmad bin Isa bin Husain bin 'Atho'illah al-Iskandary, makrifat dipahami sebagai : " Pengenalan terhadap sesuatu, baik Dzat maupun sifatnya dengan kenyataan dan sebenarnya ". Pemahaman ini cukup kontekstual dengan peribahasa, 'tak kenal maka tak sayang'. Perasaan dekat, cinta, sampai pada tahap rasa kasih sayang ini bisa diusahakan melalui pengenalan terlebih dahulu.

Allah Swt. mempunyai beberapa sifat dan nama-nama jumlahnya 99 yang disebut asmaul husna. Dengan memahami sifat dan nama Allah Swt. sampai pada tahap kesadaran batin, pengenalan akan adanya Allah Swt. bisa dicapai. Oleh karena itu, pengenalan tersebut tidak tidak akan cukup apabila hanya sampai pada wilayah pemikiran akal saja. Hanya melalui hati saja, manusia akan mampu melakukan pengenalan terhadap Allah Swt. sampai batas perasaan.

Itulah pengertian makrifat dalam pandangan beberapa ulama dan ahli sufi. Dan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian makrifat yang didefinisikan para ulama melingkupi dua pemahaman, pertama, makrifat sebagai bentuk pencapaian (maqam) yang pencapaiannya dapat dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, seperti yang diajarkan di dalam ilmu tasawuf, kedua, makrifat sebagai bentuk pengetahuan dan pengenalan secara langsung kepada Allah Swt. melalui hati sanubari. Hal ini merupakan karunia yang telah diberikan oleh Allah Swt. kepada hamba_Nya.

Perlu diketahui pula bahwa di dalam Islam ada tiga konsep, syari'at, tarekat, dan hakikat atau makrifat. Syari'at wilayahnya pada hukum-hukum Islam yang meliputi wajib, haram, mubah, makruh, dan sunah. Tarekat wilayahnya ada pada perjalanan pencapaian menuju Allah Swt. Sedangkan hakikat atau makrifat merupakan buah dari pencapaian syari'at dan tarekat. Ini menunjukkan bahwa makrifat merupakan sesuatu yang cukup vital didalam tingkat kualitas keislaman yang ada dalam diri seseorang.

Pengertian-pengertian di atas bisa menjadi dasar pemahaman dalam mengkaji tentang makrifat Khidir pada subbab selanjutnya. Tanpa memahami terlebih dahulu pengertian makrifat, memahami apa makrifat Khidir, juga tidak akan mudah. Oleh karena itu, sebelum membahas apa dan bagaimana makrifat Khidir, penulis sengaja membahas pengertian makrifat terlebih dahulu guna memberikan pemahaman secara mudah dalam mengerti apa itu makrifat Khidir.

🙏

"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah, Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 85)