MENGUAK MISTISISME NABI KHIDIR (2).

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Nabi Muhammad selalu dibimbing Allah Swt. Ucapannya, perbuatannya, tutur katanya dan sebagainya semuanya di bawah pengarahan dan bimbingan Allah Swt. Sesungguhnya dia (Muhammad) tidak bertutur kata atas dasar hawa nafsu, melainkan semuanya semata-mata adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. Ini ditegaskan oleh Allah Swt. dalam AlQur'an surah An Najm.
”Dan tidaklah yang diucapkan itu (Alquran) menurut keinginannya. Tidak lain (Alquran) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm [53]: 3-4)
Seorang Nabi dan Rasul sangat dijaga oleh Allah Swt. dari melakukan perbuatan dosa. Hadirnya Khidir dalam kehidupan Nabi Musa a.s. menjadi bentuk perlindungan Allah Swt. kepada Nabi Musa a.s. agar dia tidak sampai terjerumus pada sikap sombong yang sesungguhnya adalah penyakit hati yang membuat manusia menuhankan dirinya sendiri. Namun, ada pertanyaan lain yang cukup membingungkan. Apakah Adam bukan seorang Nabi atau Rasul, tentu dia akan dilindungi oleh Allah dari perbuatan maksiat. Tapi mengapa ketika di surga bersama Siti Hawa, Adam memakan buah Khuldi yang menyebabkan Allah Swt. murka kepadanya. Ataukah Adam saat masih di surga, ia bukan seorang Nabi atau Rasul? Jika begitu, jabatan Nabi dan Rasul hanya berlaku saat Adam telah sampai di bumi. Apabila benar begitu, nanti ketika Adam masuk surga lagi, apakah statusnya kembali bukan Nabi atau Rasul? Jika begitu, apakah Nabi dan Rasul lainnya juga sama. Status kenabiannya atau kerasulannya akan lenyap ketika sudah di surga? Jika begitu, kemaksumannya juga sudah tidak berlaku lagi?
Ini semua pertanyaan-pertanyaan yang cukup penting untuk diungkap walaupun pengetahuan tersebut sifatnya juga sangat gaib. Tentu saja orang yang sudah berada pada level pencapaian mukasyafah yang mempunyai pengetahuan tentang itu. Pengetahuan-pengetahuan di masa yang akan datang, termasuk kejadian nanti di akhirat merupakan pengetahuan yang sangat sulit untuk dipahami oleh akal. Bahkan saya kira, akal manusia tidak akan mampu mengetahuinya seandainya Alquran tidak menjelaskannya.
Kembali pada persoalan Khidir dengan Nabi Musa a.s. Kita jangan sampai berpikir perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh keduanya menjadikan perbedaan tinggi rendahnya mereka. Ini persoalan gaib yang hanya Allah Ta'ala yang tahu. Yang jelas, mereka tentu mempunyai peran masing-masing yang tidak tergantikan antara satu dengan lainnya. Peran Khidir tidak tergantikan oleh Nabi Musa a.s. begitu juga peran Nabi Musa a.s. tidak akan tergantikan oleh Khidir. Sedangkan peristiwa pertemuan yang misterius itu tentunya bukan ajang pamer bagi Khidir akan pengetahuannya yang lebih unggul dari Nabi Musa a.s. Itu perintah Allah Swt. kepada Khidir supaya Nabi Musa a.s. tidak menyombongkan dirinya lagi di hadapan orang-orang Bani Israil.
Namun, menjadi persoalan lain ketika pengetahuan yang dimiliki oleh Khidir itu dijadikan indikasi bahwa dia seorang mistisme atau penganut paham mistis. Sedangkan mistisisme sendiri dalam Islam dikenal dengan istilah tasawuf. Apabila benar begitu, bahwa ajaran tasawuf telah ada sejak dahulu sebelum Islam ada. Lalu mengapa dijadikan ciri khas dari mistisisme Islam. Jika dari dulu ada, berarti pada agama Nasrani dan lainnya tentu ada praktik mistisisme. Oleh karena itu, kurang tepat apabila hanya pada kalangan Islam saja Orientalis barat menyebut mistisisme dalam Islam disebut sufisme.
Tapi itu persoalan mereka. Yang jelas sekarang, Khidir ada yang menganggap sebagai seorang guru sufi yang patut ditimba ilmu pengetahuannya. Bahkan secara pribadi, Ibnu 'Arabi mengatakan bahwa Khidir seorang guru yang pernah mengajarinya. Sebagai seorang penganut tasawuf, maka jelas yang diajarkan Khidir kepada Ibnu 'Arabi adalah ilmu tentang tasawuf. Dikatakan oleh dia, ketika mengajar, Khidir menggunakan sosok samaran yang bernama Balya bin Malkan. Pertemuan pertama kali itu terjadi ketika Ibnu 'Arabi berada di Sevilla, Andalusia. Untuk mengetahui kebenaran itu tentang apa dan bagaimana kemistisismean Khidir, kiranya sangat perlu dikaji lebih mendasar lagi tentang mistisisme Islam sebagai korelasinya.
"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah, Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 85)
