Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
MENGUAK MISTISISME NABI KHIDIR (1).




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Mistisisme Khidir berarti menggali pengetahuan tentang prilaku dan sikap jalan hidup Khidir yang mempunyai pertalian erat dengan persoalan mistisisme. Apabila dipahami, prilaku, sikap, dan jalan hidup Khidir yang memiliki hubungan erat dengan nilai-nilai mistisisme, maka kajian tasawuf cukup penting untuk dipahami sebagai prespektifnya. Pembahasan mistisisme Khidir tidak akan bisa dilepaskan dari pengetahuan tentang tasawuf atau sufisme yang ada di dalam Islam itu sendiri.

Oleh sebagian ulama khususnya ulama sufi, Khidir dianggap sebagai seorang manusia yang dianugerahi oleh Allah Swt. berupa ilmu hakikat. Ilmu hakikat adalah ilmu tentang hakikat tentang Allah Swt., rahasia di balik rahasia dengan pintu loncatan ruh al-idlafi yang berada dalam kedalaman hati nurani. Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu hakikat termasuk ilmu rahasia yang kelihatannya bertentangan dengan ilmu syariat, namun hakikatnya tidak bertentangan. Ilmu ini tidak boleh ditulis dan tidak boleh disebar luaskan secara umum, tetapi harus disembunyikan, kecuali kepada orang-orang terpercaya (dapat menyimpannya). Padahal menurut Syamsuddin Muhammad Syahrazuri, ilmu hakikat merupakan pengetahuan sejati yang tidak berubah-ubah oleh perubahan waktu. Pengetahuan ini merupakan hikmah perrenial, misalnya ilmu tentang Tuhan, akal-akal, jiwa, falak-falak, dan unsur-unsur dasar.

Larangan terhadap penyebaran ilmu hakikat ini memang cukup berdasar. Meskipun ilmu ini merupakan ilmu sejati, tidak boleh disebarkan karena dianggap sangat berbahaya bagi orang umum. Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. berkaitan dengan ilmu hakikat ini.

”Saya meriwayatkan dari Rasulullah Saw. Dua wadah ilmu: salah satunya telah saya sebarkan kepada kalian. Adapun yang kedua, seandainya saya sebarkan kepada kalian, niscaya kalian akan mengasah pisau untuk memotong leherku ini (dua wadah itu ialah syariat dan hakikat)”.

Hadits ini mengungkapkan betapa bahayanya ilmu hakikat apabila disebarkan kepada masyarakat umum. Pengetahuan itu justru menjadikan orang yang menyebarkannya terancam hidupnya. Imam Ali Zainuddin bin Husen bin Ali bin Abu Thalib mengamininya. Beliau mengatakan;

”Banyak ilmu bagaikan mutu manikam. Seandainya aku sebarluaskan, niscaya orang-orang menganggapku termasuk para penyembah berhala dan banyak tokoh kaum Muslimin menganggap halal darahku hingga mereka menganggap membunuhku itu lebih baik.”

Ilmu yang cukup berbahaya apabila disebarkan kepada masyarakat umum ini yang dimiliki oleh Khidir. Wajar apabila Nabi Musa a.s. yang tidak memahami pengetahuan yang dimiliki oleh Khidir, selalu memprotes perlakuan anehnya. Pengetahuan syari'at yang dimiliki oleh Nabi Musa a.s. dijadikan sebagai ukuran pemahaman dalam menilai perilaku Khidir tidak mampu dijadikan sebagai pengertian. Pertanyaannya, bagaimana Khidir bisa memiliki ilmu hakikat tersebut?

Di dalam tasawuf, ilmu hakikat merupakan hasil dari capaian tahapan seorang sufi dalam melakukan proses pendekatan diri kepada Allah Swt. Seorang sufi yang sudah sampai pada maqom makrifat akan memperoleh pengetahuan hakikat setelah hijab yang menutupi atau menjadi pemisah, antara dia dengan Allah Swt. tersingkap. Tersingkapnya hijab ini membuat seorang sufi mampu menerima ilmu secara langsung dari Allah Swt. Ilmu yang didapat dari terbukanya hijab ini istilahnya ilmu mukasyafah.

Ada syarat penting untuk mendapatkan ilmu hakikat ini, yaitu tersucikan hati dan jiwa dari segala macam perbuatan dosa dan maksiat. Seorang sufi yang telah memperoleh ilmu secara mukasyafah ini, berarti ia telah berhasil dalam melakukan pembersihan hati dan jiwanya. Keberhasilan itu yang menjadi sebab dibukanya tabir penghalang antara Khidir dengan Allah Swt. Dengan terbukanya tabir penghalang tersebut, pengetahuan-pengetahuan yang bersifat gaib pun diketahui oleh Khidir secara langsung.

Secara etomologi, mukasyafah berarti terbukanya tirai atau hijab. Asal katanya kasyafah, berati tersingkap. Yang dimaksud terbukanya tirai di sini adalah terbukanya rahasia dari segala rahasia dunia gaib secara mistis atau supranatural. Contoh konkretnya, peristiwa yang terjadi di masa depan. Tidak semua orang akan tahu, bagaimana nasibnya nanti. Apakah menjadi orang beruntung atau justru orang yang merugi? Pengetahuan tersebut memang sangat dirahasiakan oleh Allah Swt. dari kebanyakan manusia. Namun, bagi orang yang telah sampai pada tingkat mukasyafah, pengetahuan yang gaib tersebut atas izin Allah Swt. bisa diketahuinya.

Dikisahkan, Khidir a.s. membunuh seorang anak kecil dengan alasan kelak anak tersebut setelah dewasa menjadi orang yang ingkar kepada Allah Swt. Keingkaran itu yang membuat kedua orang tuanya yang saleh dan tekun beribadah kepada Allah Swt. masuk neraka. Pengetahuan tentang masa depan seorang anak ini yang membuat Khidir a.s. diakui memiliki ilmu hakikat. Dia juga mampu melihat sesuatu yang tidak mampu dilihat dilihat oleh Nabi Musa a.s. yaitu akan datangnya bajak laut yang suka merampas perahu nelayan. Dirusaknya perahu yang dinaiki Khidir. Sudah tentu untuk menyelamatkan si nelayan dari aksi perampokan. Khidir juga mengelabui ada harta anak yatim yang disimpan di dalam bangunan tembok yang hampir roboh, sehingga ia membetulkannya kembali agar harta tersebut aman dan terjaga sampai anak itu dewasa.

Apabila dikontekskan dengan pemahaman tentang ilmu hakikat, tidak mungkin bagi seseorang mampu mengetahui persoalan gaib yang dirahasiakan oleh Allah Swt. seandainya ia tidak terbuka tabir penghalangnya antara ia dengan Allah Swt. Faktanya, Al Qur'an menerangkan Khidir mampu mengetahui hal-hal gaib yang tidak diketahui oleh Nabi Musa a.s. Ini indikasi bahwa Khidir memang telah sampai pada pencapaian level ilmu hakikat. Hal ini juga telah diterangkan dalam surah Al-Kahfi ayat 65.

”Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. al-Kahfi [18]: 65).

Ayat ini secara jelas telah menerangkan bahwa Kami (Allah Swt.) yang mengajarkan ilmu kepada Khidir. Allah Swt. sendirilah yang mengajarkan pengetahuan rahasia itu kepada Khidir yang tidak diketahui oleh Nabi Musa a.s. Pertanyaannya, apakah Nabi Musa a.s. belum sampai pada level pencapaian maqam tersebut? Jika sudah, mengapa ia tidak mampu mengetahui kejadian di masa depan, seperti yang diketahui oleh Khidir, lebih tinggi mana derajat Khidir dengan Nabi Musa a.s.?

Pertanyaan ini bisa terjawab ketika kita tahu sebelumnya bahwa Nabi Musa a.s. diutus oleh Allah Swt. menemui Khidir setelah ia merasa sebagai paling pintar di hadapan masyarakat Bani Israil.

Diriwayatkan dari Ubay bin Ka'bra, bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda :

”Nabi Musa pernah berdiri menyampaikan khotbah di tengah-tengah Bani Israil, lalu dia ditanya, 'Siapakah manusia yang paling pandai? 'Dia menjawab, 'Aku yang paling pandai.' Akhirnya Allah Swt. mencela sikapnya yang seperti itu, karena dia tidak mengembalikan segala pengetahuan kepada Allah Swt. Selanjutnya, Allah Swt. mewahyukan kepadanya dengan berfirman, 'Ada seorang hamba di antara para hamba_Ku yang tinggal dipertemuan dua laut, dia lebih pandai daripada engkau, 'Musa berkata, 'Ya Rabbi, bagaimana aku bisa bertemu dengannya?' dikatakanlah padanya, 'Bawalah seekor ikan dalam sebuah keranjang. Jika ikan itu hilang (lepas dari keranjang tersebut), maka disitulah tempatnya.”

Hadits ini telah menerangkan, bukankah sikap tersebut bentuk kesombongan Nabi Musa a.s. sendiri? Bagaimana proses awal bertemunya Khidir dengan Nabi Musa a.s. Kesombonganlah yang membuat Nabi Musa a.s. ditegur oleh Allah Swt. dengan cara memintanya menemui hamba_Nya bernama Khidir. Kesombongan Nabi Musa a.s. ini pula yang membuktikan bahwa hatinya masih belum bersih. Bukankah sifat sombong itu adalah penyakit hati. Ini alasan kuat, mengapa Nabi Musa a.s. belum sampai pada pencapaian level ilmu hakikat.

Tapi kita jangan langsung memberikan kesimpulan bahwa derajat Khidir lebih tinggi dari seorang Nabi dan Rasul, yaitu Musa a.s. Justru karena Musa a.s. itu seorang Nabi dan Rasul yang mengemban tugas dan tanggung jawab sangat besar dan sangat berat, Allah Swt. kemudian melindunginya dari segala perbuatan, sikap, dan prilaku yang bisa membuatnya terjerumus pada lembah kehinaan dan perbuatan dosa. Ini salah satu keistimewaan dari semua Nabi dan Rasul, yaitu mempunyai sifat Maksum (terjaga dari melakukan kesalahan dan perbuatan dosa).

Maksum merupakan salah satu doktrin utama dalam konteks kenabian dan kerasulan yang ada di dalam agama Islam. Doktrin ini berlaku universal terhadap semua Nabi dan Rasul yang pernah ada. Tidak khusus hanya pada Nabi Muhammad Saw. saja. Doktrin ini memberi pengertian khusus bahwa semua tingkah laku para Rasul itu steril dari kesalahan. Mereka telah dijauhkan oleh Allah Swt. dari perbuatan-perbuatan dosa yang bisa membuat cacat posisi kenabian dan kerasulannya. Maka, apa yang disampaikan terhadap setiap umatnya pasti benar dan terpercaya. Sebab, peluang kesalahan telah ditutup rapat melalui doktrin ini. Sedangkan amaliah (amal perbuatan) yang mereka lakukan hanya terbatas pada pekerjaan yang berhukum wajib dan sunah, tidak sampai pada ranah mubah, apalagi makruh dan haram.

Tapi yang pasti dan perlu dipahami secara sadar, bahwa Nabi dan Rasul juga seorang manusia, jadi tidak bisa terlepas dari sifat-sifat kemanusiaan yang ada pada manusia pada umumnya (al-A'ruudhul-Basyariyah). Apabila lapar mereka membutuhkan makan. Apabila haus, mereka butuh minum. Apabila mengantuk, mereka butuh tidur. Apabila sakit, mereka butuh pengobatan, butuh istirahat, selain itu, mereka juga bisa merasa gembira, sedih, takut, dan lain sebagainya. Semua itu tidak bisa lepas dari diri seorang Nabi dan Rasul. Sebagai manusia, mereka juga bisa lupa, dan salah keadaan-keadaan di atas merupakan refleksi dari al-A'ruudhul-Basyariyah.

”Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? ; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al Furqon [25]: 20).

Katakanlah, ”Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan hanyalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi [18]: 110).

Nabi Muhammad Saw. tetap manusia sebagaimana manusia lainnya, sebagaimana isyarat Al Qur'an dalam beberapa ayatnya di atas. Pada diri Nabi Muhammad Saw. terdapat segala sesuatu yang ada pada manusia, yakni dimensi biologis manusia. Karena itu, Nabi makan, minum, sakit, tidur, berdagang, berkeluarga, senang, sedih, dan sebagainya seperti umumnya manusia. Al Qur'an sengaja menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia, basyar, seperti manusia lainnya untuk membantah alasan penolakan kaum musyrikin terhadap Nabi Saw. bahwa ia bukan dari golongan malaikat atau paling tidak bekerja sama dengan malaikat (QS. Al Furqon [25]: 7) dan mengingatkan kaum Muslimin supaya tidak mengulangi kesalahan seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Nabi Isa yang menganggapnya sebagai Tuhan.

Namun kemudian timbul pertanyaan apakah hal tersebut tidak bertolak belakang dengan sifat maksum yang dimiliki oleh Nabi dan Rasul? Jawabannya tentu ”sama sekali tidak”. Bahkan sebaliknya, hal tersebut justru semakin mengukuhkan sifat kemaksuman mereka.

Kalau kita cermati kejadian-kejadian di atas secara spesifik, akan kita dapati bahwa setiap kali Rasulullah Saw. melakukan kesalahan pasti Allah Swt. akan menegurnya. Hal tersebut sama sekali tidak merusak konsep maksum yang melekat pada beliau, namun justru semakin menguatkan pemahaman bahwa setiap apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad pasti benar dan terbebas dari setiap bentuk kesalahan. Sebab, setiap kali beliau melakukan kesalahan pasti akan ada teguran langsung dari Allah, sehingga beliau akan segera meralat langkah salah tersebut.

Dari fakta-fakta empiris di atas dapat diambil kesimpulan bahwa konsep maksum yang ada pada diri para Rasul bukan berarti mereka tidak pernah salah. Akan tetapi, ketika mereka melakukan kesalahan, akan datang teguran dan peringatan langsung dari Allah dan mereka akan segera memperbaiki kesalahan tersebut. Sebuah rumah dikatakan bersih, bukan berarti rumah tersebut tidak pernah kotor. Tetapi ketika ada kotoran maka segera dibersihkan.

🙏

"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah, Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 85)