Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
MAKRIFAT DALAM PANDANGAN ISLAM.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

OLEH : HERI KURNIAWAN TADJID

Memahami konsep makrifat di dalam Islam sepertinya cukup jelas kalau memahami tasawuf itu bagian dari Islam. Tasawuf adalah bentuk mistisisme di dalam Islam. Para pemikir barat sepakat itu. Begitu juga para ulama, mengakui bahwa tasawuf merupakan bagian dari tradisi pemikiran di dalam Islam yang tujuannya mendekatkan diri pada Allah Swt. melalui beberapa ragam cara. Maka, apa pun yang diajarkan di dalam praktik tasawuf, tentu diadopsi dari Islam itu sendiri. Begitu pula dengan adanya konsep makrifat, tentu menjadi bagian dari Islam pula. Apabila seperti itu, tentu ada dalil yang entah dari Al Qur'an atau hadits Nabi menjadi dasar pemikiran di dalam konsep makrifat yang bisa dijadikan argumen. Ini yang perlu dikaji dalam pembahasan ini.

Para ulama banyak berpendapat bahwa ajaran makrifat secara teoretis tekstualis berawal dari penafsiran surah al-Dzariat ayat 56 yang artinya ”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada_Ku.” Kalimat ”supaya mereka mengabdi kepada_Ku” menurut Ibnu Abbas berarti ”agar mereka mengenal_Ku (Allah), yaitu makrifat. Sementara pada surah al-An'am ayat 91 yang artinya ”…dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya.”

Ada sebagian tafsir yang menuliskan bahwa ayat itu berarti ”mereka tidak mengenal (makrifat) Allah sebagaimana seharusnya Ia dikenal ” (Al-Thusi, 2001: 38). Sumber lain ajaran makrifat adalah dua buah hadits Qudsi dari Abu Hurairah yang diriwayatkan al-Bukhari yang artinya:

”…dan hamba_Ku senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada_Ku dengan amalan-amalan sunah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Aku menjadi (alat) pendengarannya yang ia mendengar dengan alat itu menjadi (alat) penglihatannya yang ia melihat dengan alat itu, menjadi tangannya yang dengannya ia memukul, dan kakinya yang dengannya ia berjalan ” (al-Bukhari, ttp: lll, 131).

Pada hadits lain juga disebutkan:

”Pada mulanya Aku merupakan misteri yang tersimpan dan belum dikenal kemudian Aku rindu Aku menciptakan makhluk dan Aku berkenalan dengan mereka, akhirnya mereka pun mengenal-Ku (Ibnu 'Arabi,t.t: ll,399)

Sebagaimana yang dipahami oleh Al-Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Khadiry bahwa ”makrifat adalah hadirnya kebenaran Allah (pada sufi) yang mana hatinya selalu berhubungan dengan cahaya”. Dengan demikian, makrifah berhubungan dengan nur (cahaya Tuhan). Di dalam Al Qur'an, dijumpai tidak kurang 43 kali kata nur diulang dan sebagian besar dihubungkan dengan Tuhan.” Misalnya arti ayat yang berbunyi:

”Dan barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS. Al-Nur [24]: 40)

Pada ayat lain juga disebutkan:

”Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? (QS. Al-Zumar [39]: 22)

Dua ayat tersebut sama-sama berbicara tentang cahaya Tuhan. Dua ayat ini telah memberikan penegasan bahwa 'cahaya' ternyata dapat diberikan Tuhan kepada hambaNya yang Dia kehendaki. Mereka yang mendapatkan cahaya akan dengan mudah dapat mendapat petunjuk hidup, sedangkan mereka yang tidak mendapat cahaya akan mendapatkan kesesatan hidup. Dalam makrifat kepada Allah, yang didapat seorang sufi adalah cahaya. Dengan demikian, ajaran makrifat sangat dimungkinkan terjadi dalam Islam dan tidak bertentangan Al Qur'an. Selanjutnya, di dalam hadits kita jumpai sabda Rasulullah yang berbunyi:

”Aku (Allah) adalah perbendaharaan yang tersembunyi (gaib), Aku ingin memperkenalkan siapa Aku, maka Aku ciptakanlah makhluk. Oleh karena itu Aku memperkenalkan diri-Ku kepada mereka. Maka mereka itu mengenal Aku.” (Hadits Qudsi).

Hadits tersebut memberikan petunjuk bahwa Allah Swt. dapat dikenal oleh manusia. Caranya dengan mengenal atau meneliti ciptaan-Nya. Ini menunjukkan bahwa makrifat dapat terjadi dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Di dalam Islam, iman kepada Allah Swt. tidak cukup sekadar membaca kalimat Syahadat semata. Keyakinan kepada Allah Swt. perlu adanya kesadaran secara penuh di dalam jiwa dan raga. Di sisi lain model keyakinan ini tentu tidak mudah. Melalui makrifat ini, maka keyakinan tersebut dapat diraih. Dalam hal ini bisa dipahami pula bahwa makrifat hanyalah metode untuk mengenal Allah Swt. Supaya keyakinan dalam diri seseorang menjadi sangat kuat. Metode ini juga merupakan petunjuk Allah Swt. sendiri bagi mereka yang ingin mengenalnya secara sungguh-sungguh. Di dalam satu ayat disebutkan:

”Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Ankabut: 69).

Selain itu, makrifat yang dipahami sebagai tingkatan maqam atau kondisi kejiwaan seseorang yang telah sampai pada tahap penyaksian diri secara langsung terhadap Allah Swt. secara kesadaran batin, harus melalui metode pembersihan hati dari perbuatan dosa dan maksiat. Dan ini bisa bisa dilakukan melalui cara selalu mengingatkan Allah Swt.

Menurut Imam Al-Ghazali dalam al-Munqidh menjelaskan, dzikir adalah syarat utama bagi orang yang menempuh jalan Allah dan membersihkan hati secara menyeluruh dari selain Allah, sedangkan kuncinya menenggelamkan hati secara keseluruhan dengan dzikir kepada Allah Swt. Metode dzikir untuk pembersihan hati ini menjadi bagian penting dalam tasawuf. Padahal ini telah dijelaskan pada suatu ayat yang artinya:

”….Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: ”Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang dekat kebenarannya daripada ini.” (QS. Al-Kahfi [18]: 24)

Dalam ayat lain juga dijelaskan:

”Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori nya,” (QS. Al-Syams [91]: 9-10).

Dari ayat-ayat di atas bisa diketahui bahwa Islam memang tidak menentang konsep makrifat. Justru sangat mendukung karena pencapaian makrifat mempunyai korelasi yang cukup kuat dan mendasar terhadap keyakinan seseorang terhadap Allah Swt. Ini perlu dipahami oleh sebagian kalangan yang menganggap tasawuf merupakan konsep pemikiran yang terpisah dengan Islam, bahkan bertentangan.

🙏

"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah, Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 85)