Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
ILMU MUKASYAFAH.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Di dalam ilmu tasawuf, seorang sufi yang telah terbuka hijab yang menghalangi pandangan batinnya dengan Allah Swt., istilahnya adalah mukasyafah. Mukasyafahlah secara harfiah berarti penyingkapan, pembukaan. Dipahami pula sebagai penglihatan langsung ke alam malakut selepas tersingkirnya hijab. Dalam kitab Al-Laduniyyah Ditegaskan oleh Al-Ghazali bahwa tujuan mukasyafah yang sebenarnya adalah untuk membuka maksud Qur'an secara utuh. Keadaan ini disamakan dengan seorang anak yang diperlihatkan pada banyak hal, tetapi ia tidak bisa memahami apa yang dilihat. Ketika si anak itu bisa memahaminya, terbukalah penghalang yang menutupi pandangannya dengan peristiwa yang dilihat. Itulah gambaran keadaan mukasyafah secara sederhana.

Mukasyafah sendiri adalah semacam ilmu pengetahuan yang didapat karena seseorang itu telah sampai pada maqom tertentu dalam olah batinnya. Istilah maqomat ini sendiri berasal dari derivasi qama-yaqumu-maqam yang berarti tempat berdiri. Secara terminologi, maqam adalah tahapan dari sebuah pencapaian spiritual dalam proses pendekatan diri kepada Allah Swt. yang merupakan hasil dari usaha pribadi yang bersifat mistik.

Pengertian lainnya, maqom adalah suatu istilah dalam tasawuf yang berarti 'stasiun-stasiun', yang berarti suatu 'kedudukan' yang merupakan tempat-tempat persinggahan yang harus dilalui oleh seorang sufi yang sedang berjalan menuju Allah Swt. Seorang sufi, tidak akan sampai pada maqom makrifat, apabila dia belum melewati maqam dibawahnya dengan sempurna. Misalnya, maqam taubat. Seorang sufi tidak akan meningkat ke maqom selanjutnya apabila dia belum melakukan pertaubatan atas dosa-dosa yang pernah diperbuatnya semasa hidup. Pertaubatan ini harus betul-betul dilakukan dengan penuh penyesalan dan niatan tidak akan mengulangi perbuatan maksiat lagi. Setelah itu dilakukan, baru bisa naik ke tingkat selanjutnya. Itulah gambaran tentang maqomat. Ada banyak pendapat yang berbeda-beda dalam membagi maqamat yang harus dilalui oleh seorang sufi agar ia menjadi tersucikan hati dan jiwanya. Abu Sa'id Ibn Abi Khayr menentukan ada empat puluh maqom yang harus ditempuh oleh seorang sufi. Di antaranya: niyyat, mabat, taubat, irodat, mujahadah, muraqabah, sabr, zikr, rida', khauf, raja, fana, baqa', ilm al yaqin, haq al yaqin, ma'rifat, jahd, wilayat, mahabbah, wajd, qurb, tafakkur, wisal, kasf, khidmat, tajrid, tafrid, inbisat, tahqiq, nihayat, tasawuf.

Berbeda dengan Abu Bakar al Kalabadzi, yang membagi maqomat dalam katagori; taubat, zuhd, sabar, tawakal, rida, mahabbah, dan Ma'rifat (Ensiklopedia Tematis, 2004). Maqomat dalam katagori ini lebih sedikit, dibandingkan dengan pembagian maqomat yang pertama. Sedangkan menurut Abu Nars al Sarraj dalam kitabnya al Luma, menjelaskan bahwa ada tujuh maqomat yang harus dilewati oleh seorang sufi, taubat, wara, zuhd, faqr, sabr, tawakal, dan rida.

Perbedaan pendapat tentang berapa banyaknya maqomat yang sebenarnya ini bukan berarti tanpa dasar yang jelas. Mereka mempunyai dasarnya masing-masing, hingga mampu membagi maqomat ke beberapa tahapan. Semuanya bertujuan sama, yaitu tercapainya kesucian hati dan jiwa dari noda-noda dosa dan sifat-sifat tercela. Setelah keadaan hati dan jiwanya suci dan bersih, mereka akan mampu menyembah Allah Swt. dalam suatu kesadaran penuh bahwa kita berada di dekat_Nya, sehingga kita ”melihat”_Nya atau Ia senantiasa mengawasi kita dan kita senantiasa berdiri di hadapan_Nya.

Apabila seorang sufi telah sampai pada keadaan itu, ia akan mudah memperoleh ilmu secara langsung dari Allah Swt. Ilmu itu dinamakan ilmu mukasyafah. Al Ghazali mengatakan bahwa mukasyafah merupakan tingkatan ilmu yang paripurna dan menduduki level atas dalam deretan pengetahuan lain yang mampu dicapai manusia. Ilmu mukasyafah ini hanya bisa diperoleh melalui Nur Ilahi. Seseorang yang hatinya masih kotor, Nur Ilahi akan sangat sulit diperolehnya. Maka, seorang yang telah tersucikan hati dan jiwanya, Nur Ilahi pun akan mudah didapatkan.

Pendapat Al Ghazali ini dipahami bahwa mukasyafah merupakan tingkatan ilmu pengetahuan yang paling tinggi. Ini akan bisa diraih oleh seorang sufi yang sudah mencapai tahapan hakikat. Sedangkan hakikat ini, bisa dicapai oleh seorang sufi ketika dia sudah dalam keadaan tersucikannya hati dan ruhnya. Di sinilah hubungan antara tasawuf, mukasyafah, dan hakikat terjadi saling terkait.

🙏

"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah, Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 85)