KEPERCAYAAN PADA YANG GAIB.

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
OLEH : HERI KURNIAWAN TADJID
Islam sangat percaya pada hal-hal gaib; sesuatu yang memang tidak bisa diketahui secara indrawi dan itu dianggap ada. Seperti hal adanya Allah Swt., Malaikat, dan akan adanya akhirat, ada surga, neraka, hari pembalasan, dan sebagainya. Terhadap semua itu, Islam menganjurkan pada penganutnya (umat Islam) untuk meyakininya. Biar pun akal manusia masih tidak mampu menjangkaunya. Dalam artian, bagaimana dan seperti apa akhirat, surga dan neraka tersebut bisa diketahui secara konkret. Bahkan tidak hanya Allah Swt., yang gaib, yang perlu diyakini, tetapi adanya setan dan jin di dunia ini pun harus diyakini keberadaannya. Meskipun mereka tidak tampak oleh Indra penglihatan manusia. Allah Swt., berfirman dalam dalam surat al-Baqarah 2-3:
"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat."
(QS. Al-Baqarah Ayat 2-3- 4)..
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa mereka yang dikatakan bertakwa di antaranya adalah mereka yang beriman kepada hal yang gaib. Maka, orang tidak mempunyai keyakinan di dalam hatinya akan hal-hal gaib, secara otomatis ketakwaannya perlu diragukan kembali. Bagaimana bisa mencapai tingkat ketakwaan apabila hal-hal gaib seperti adanya akhirat, surga dan neraka, setan dan jin, malaikat, bahkan Allah Swt. sendiri tidak diyakininya. Lalu bagaimana ia bisa taat pada syariat Islam apabila yang membuat syariat, yaitu Allah Swt. yang disampaikan kepada umat manusia melalui Rasulullah Saw. tidak dipercainya? Secara otomatis, mereka yang tidak meyakini keberadaan Allah Swt. tentu tidak akan manaati syariat yang dibuat-Nya. Padahal sudah jelas, konsep ketakwaan secara sederhana, mereka yang taat pada perintah Allah Swt. dan menjauhkan segala laranganNya. Oleh karena itu, pengetahuan tentang gaib dalam Islam sangat diperlukan. Sampai-sampai, menjadi tanda adanya ketakwaan atau tidak dalam diri seseorang tersebut.
Keyakinan yang dianjurkan oleh Islam pada sesuatu yang gaib ini tidak lain merupakan bagian dari pengertian mistik itu sendiri. Seperti yang dipahami oleh Koentjaraningrat (1980) bahwa mistik itu merupakan bentuk religi yang berdasarkan kepercayaan atau keyakinan kepada satu Tuhan yang dianggap meliputi segala hal dalam alam dan sistem keagamaan. Menyikapi itu, Islam menganjurkan untuk meyakininya saja karena memang akal tidak akan mampu memahaminya secara rasional. Sebagaimana wujud Allah Swt. sendiri, akal manusia tidak akan mampu mengidentifikasi secara rasional, bagaimana bentuknya, apakah sebagaimana manusia ataukah lain, itu semua tidak akan mampu dipahami mereka, kecuali hanya terbatas pada pengetahuan terhadap gejala-gejala yang diciptakan sebagai korelasinya. Misalkan, adanya alam raya ini, tentu ada yang menciptakannya, yaitu Allah Swt. Namun, bagaimana sesungguhnya Allah Swt. itu, akal tetap tidak akan mampu untuk mereka ketahui. Inilah yang disebut oleh Annemarie Scimmel dalam bukunya Mystical Dimension of Islam, sebagai Mysticism of Infinity.
Annemarie membagi menjadi dua bagian tipe ajaran mistik, yakni Mysticim of Infinity dan Mysticim of Personality. Mysticim of Infinity adalah paham mistik yang memandang Tuhan sebagai realitas yang absolut dan tidak terhingga. Tuhan diibaratkan sebagai lautan yang tidak terbatas dan tidak terikat oleh zaman. Pemahaman ini memberikan suatu pengakuan, bahwa wujud Tuhan itu tidak mampu dilogikakan oleh akal manusia. Sehingga, manusia cukup memahami Tuhan sebagai Dzat yang tidak terikat oleh waktu dan ruang. Sehingga ada keyakinan, Tuhan meliputi kehidupan alam semesta. Bahkan bisa lebih dekat dari kedua urat leher manusia.
Tipe yang kedua, personal mistik, yaitu suatu aliran mistik yang menekankan aspek personal bagi manusia dan Tuhan. Pada paham kedua ini, hubungan manusia dengan Tuhan dilukiskan sebagai hubungan antara kawula (makhluk) dengan Gusti (Khalik). Tipe kedua ini lebih pada menekankan kemistikkan pola hubungan antara makhluk dengan sang pencipta (Allah Swt.). Memang, pola hubungan yang terjalin keduanya tidak bisa dipahami oleh akal manusia. Kedekatan Allah Swt. dengan seorang hamba, tidak akan bisa diketahui oleh manusia secara umum. Bahkan si pelaku hanya bisa merasakannya di dalam jiwa dan hatinya. Bahkan untuk menggambarkannya sendiri menjadi sesuatu yang sulit.
Inilah alasan, mengapa Islam mengandung tuntunan yang bersifat mistik di dalamnya. Ada nilai manfaat yang bisa diambil oleh manusia. Beberapa manfaat positif yang dapat diambil misalnya, memberikan pengertian pada manusia bahwa di dalam kehidupan ini ada kekuasaan Allah Swt. Allah Swt. lah Dzat yang paling berkuasa. Tidak ada yang lainnya yang mampu menandingi Kekuasaannya. Begitu juga perjalanan kehidupan di dalamnya, tidak serta-merta berjalan dengan sendirinya. Ada Allah Swt. yang telah mengatur dan menjaganya.
Apabila kesadaran ini membekas dalam hati manusia, sikap kesewenang-wenangan, kesombongan diri, keangkuhan, akan lenyap dalam diri manusia. Padahal, sifat-sifat ini sangat berbahaya bagi perjalanan hidup manusia. Sikap kesewenang-wenangan dapat merugikan orang lain, misalnya akan memunculkan penindasan, diskriminasi, ketidakadilan di tengah masyarakat. Padahal, Islam hadir di tengah manusia, tidak lain ingin memberikan rahmat bagi seluruh alam semesta (Islam Rahmatan Lil Alamin). Jadi, mistisisme dalam Islam tidaklah terputus dari kehidupan sosial masyarakat. Justru mempunyai pertalian yang saling menguatkan.
Dalam Islam, seorang hamba dituntut untuk beriman kepada hal gaib, misalnya malaikat, qada dan qadar, surga dan neraka. Tuntutan ini terbatas pada pengakuan. Pengakuan ini tidak sekadar pengakuan secara keyakinan di dalam hati saja. Pengakuan ini lebih mendalam lagi, perlu adanya pengejawantahan berupa sikap waspada pada sosok setan, iblis, yang dijelaskan oleh Allah Swt. dalam Al Qur'an, sebagai musuh umat manusia. Mereka tidak akan pernah selesai menggoda supaya manusia mengikuti jalan yang sesat.
Kalau merujuk pada pemahaman makna mistik seperti yang dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, sudah tentu, segala macam yang tidak bisa dilogikakan oleh akal di dalam suatu ajaran agama, itu pasti masuk dalam kategori mistik. Bukan berarti ajaran yang Bersifat mistik itu tidak baik. Dikatakan sebagai mistik itu karena keterbatasan kemampuan akal manusia memahami sesuatu secara rasional.
Pada zamannya, sebelum teknologi manusia maju pesat sebagaimana sekarang, informasi Islam yang mengatakan langit terdiri dari 7 lapis, begitu juga bumi. Informasi tersebut tentu bersifat mistik saat itu. Baru setelah ada teknologi yang mampu membuktikan bahwa bumi dilapisi oleh 7 atmosfir yang melindunginya dari ancaman benda-benda langit, misalkan meteor, bintang, dan sebagai, manusia baru mengerti. Peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad Saw pun saat itu banyak yang menilainya sebagai hal mistik. Bagaimana mungkin, melakukan perjalanan yang jaraknya sangat jauh, hanya ditempuh dalam waktu satu malam saja. Namun atas kehendak Allah Swt., segala sesuatu yang tidak mungkin oleh akal itu pasti bisa terjadi.
"Katakanlah (Muhammad), Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan."
(QS. An-Naml 27: Ayat 65)
