Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

MISTIK DALAM PANDANGAN ISLAM.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

OLEH : HERI KURNIAWAN TADJID

Islam agama yang sempurna, memang bukan statemen yang mengada-ada. Di dalam Islam, telah diajarkan tentang banyak hal kepada umat manusia. Tidak hanya mengajarkan bagaimana shalat, berpuasa, zakat, dan haji saja. Islam juga mengajarkan bagaimana bersosial dengan masyarakat secara baik dan benar, sehingga apabila dipraktikkan akan membentuk hubungan yang harmonis antar sesama. Selain itu, Islam juga mengajarkan bagaimana cara berniaga dan berbisnis secara baik dan benar, sehingga tidak sampai merugikan diri sendiri maupun merugikan orang lain, sebagaimana yang pernah dipraktikkan oleh Nabi ketika masih berdagang bersama istrinya, Siti Khadijah.

Di wilayah ketatanegaraan, Islam juga mengajarkan kepada seseorang pemimpin supaya dalam memimpin, mereka bisa bersikap adil dan bijaksana kepada rakyat yang dipimpinnya. Dengan adanya keadilan dan sikap bijaksana dalam memimpin, nasib rakyat akan sejahtera. Hak-haknya terlindungi dari segala ancaman yang hadir, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh sahabat Umar bin Khattab. Tidak hanya itu saja, pengetahuan tentang sains, ilmu medis, arsitektur bangunan, dan ilmu pengetahuan secara luas pun ada dalam Islam. Semua itu telah terkandung di dalam isi Al Qur'an apabila mau mendalaminya.

Itulah alasan mengapa Islam dikatakan sebagai agama yang sempurna, agama yang bisa dijadikan sebagai referensi untuk hidup menjadi lebih baik. Bahkan sebagai agama universal. Ini bisa diketahui dari arti ayat yang berbunyi:

”Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Ambiya [21]: 107)

Ayat ini menegaskan bahwa Muhammad Saw. diutus sebagai Rasul untuk semua manusia. Tidak seperti Rasul-rasul sebelumnya yang diutus hanya untuk umatnya saja. Misalnya Nabi Musa a.s., diutus hanya untuk kaumnya, Bani Israil. Muhammad Saw. diutus menyampaikan syariat Islam untuk semua umat manusia di dunia ini. Pertanyaan selanjutnya, apakah pemahaman tentang mistik ada di dalam Islam pula?

Ini bila dimulai dari pemahaman yang paling mendasar. Di dalam Islam, ada rukun iman.
  1. Iman kepada Allah Swt.

  2. Iman kepada Malaikat.

  3. Iman kepada Kitab Suci.

  4. Iman Kepada Rasul.

  5. Iman kepada hari akhira.

  6. Iman kepada Qodho dan Qodhar.

Sebagai orang Islam, kita harus mengimani rukun iman yang ada enam tersebut. Pertanyaan, apakah kita mengerti, tentang apa yang harus kita imani itu. Misalkan, iman kepada Allah Swt., Malaikat, dan akhirat, apakah kita mampu memahaminya? Maksudnya, memahami adanya Allah Swt., Malaikat, dan kelak ada yang nantinya hari pembalasan, ada surga dan neraka. Tentu kapasitas akal manusia tidak akan menjangkau semua itu. Akal tidak akan mampu mengetahui bagaimana wujud Allah Swt., Malaikat, dan surga dan neraka.

Dalam konteks mistik, adanya Allah Swt., Malaikat, dan kehidupan di hari akhir nanti merupakan persoalan yang mistik. Akal manusia jelas tidak akan mampu mengetahuinya. Ini bukti dari keterbatasan akal manusia dalam memahami ilmu Allah Swt., yang Mahaluas tidak terhingga. Namun, bukan tidak ada cara untuk bagaimana mengetahui atau merasakan keberadaan Allah Swt., dan hal gaib lainnya.

Akal manusia memang tidak akan menjangkau pengetahuan gaib. Akal hanya mampu mencerna sesuatu yang bersifat materi. Sedangkan yang nonmateri, akal manusia tidak akan mampu mengerti secara rasional. Untuk mengetahui Allah Swt, tentu akal hanya bisa memahami melalui gejala-gejala penciptaan yang sifatnya materi. Misalnya, alam semesta ini adalah suatu perwujudan yang diadakan. Siapa yang mengadakan, kecuali Dia, Yang Maha Mencipta. Dengan mengamati hasil ciptaan Allah Swt., keyakinan bisa dirangsang untuk muncul. Lalu bagaimana kalau ingin mengetahui wujud Allah Swt., paling tidak mampu merasakan keberadaan-Nya? Cara itu bisa ditempuh melalui hati manusia.

Dari sinilah muncul mistisisme Islam. Mistisisme Islam ini biasa juga disebut tasawuf atau sufisme. Tasawuf ini mengajarkan bagaimana cara membersihkan hati yang sudah terkotori oleh noda akibat perbuatan-perbuatan maksiat. Tujuannya agar bisa mendekatkan diri pada Allah Swt. Bisa merasakan keberadaan-Nya meskipun tidak secara materi. Kedekatan ini tidak akan bisa dirasakan oleh orang yang belum bersih hatinya. Untuk itu, perlu membersihkan hatinya terlebih dahulu, untuk bisa mendekatkan diri pada Allah Swt., hingga mampu merasakan keberadaan-Nya. Itulah gambaran sekilas tentang pemahaman mistik yang ada dalam Islam.

🙏

Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) mengatakan : ” Tasawuf adalah membersihkan jiwa dari pengaruh benda-benda atau alam supaya dia mudah menuju Tuhan”.