SENANDUNG DI BAWAH TIANG GANTUNGAN (5).

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
TUHAN DALAM AJARAN SUFI.
Konsepsi estetika mengenai ketuhanan dalam metafisika sufi pada umumnya didasarkan pada pikiran bahwa antara Tuhan dengan manusia terdapat cinta timbal balik. Prinsip ajaran tersebut menurut pandangan sufi terdapat dalam Qur'an. Pendapat ini juga diakui oleh para ahli fiqh. Hanya saja penjabarannya - sehingga timbul interpretasi yang berbeda, seperti interpretasi Ibn Arabi, Al-Farabi, Suhrawardi dan Al-Hallaj - telah dipengaruhi oleh filsafat asing, misalnya Monoisme dan aliran Neoplatonisme.
Interpretasi seperti itu selain dianut oleh para sufi yang namanya disebut tadi dapat disebutkan nama seorang sufi wanita Rabi'ah al-Adawiah (wafat 185 H/801 M). Rabi'ah al-Adawiah demikian rupa menggambarkan Tuhan sebagai kekasihnya, sehingga aspek cinta kepada Tuhan dalam pandangannya adalah tujuan dari segala aktivitas. Rabi'ah al-Adawiah dalam sebuah doanya, misalnya, mengucapkan:
”Tuhanku, kalau aku menyembah-Mu semata-mata karena takut terhadap ancaman neraka-Mu, bakarlah aku dalam neraka itu. Seandainya aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga-Mu, maka singkirkanlah aku dari surga itu. Tetapi apabila aku menyembah-Mu demi karena-Mu semata, janganlah Engkau tidak memberikan keindahan-Mu yang abadi itu.”
R.A. Nicholson dalam ALiteraly History of the Arabs seperti yang dikutip Kenneth W. Morgan, interpretasi cinta orang-orang sufi kepada Tuhan dapat dibaca dalam puisi Rabi'ah al-Adawiah:
اُحِبُّكَ حُبَّيْنِ حُبُّ اْلهَوٰى وَحُبٌّ لِأَ نَّكَ اَهْلٌ لِذٰلِكَ فَاَمَّـاالَّذِىْ اَنْتَ اَهْلٌ لَهُ فَکَسْفَكَ لِيَ اْلحِجَابَ حَتَّى اَرَاكَ فَاْلحَمْدُ فِى ذَاكَ وَلَاذَكَى لِى وَلٰكِنْ لَكَ اْحَمْدُ فِى ذَاكَ وَذَاكَ .
”Ada dua macam cintaku kepada-Mu, yaitu cinta untuk kebahagiaanku dan cinta kasih mutlak, cinta kepada-Mu karena itu hak-Mu. Cinta untuk kebahagiaanku telah menyeret aku untuk tidak berbuat apa pun kecuali mengingat-Mu. Tetapi kasih mutlak yang menjadi hak-Mu, ialah tudung lingkup penutup wajah-Mu, terbuka dan kupandanglah Engkau dengan gairah. Tak ada puji ini atau itu hakku. Tidak! Hak-Mu lah puji bagi kedua kasihku.”
Jadi pandangan seorang sufi dengan seorang ahli fiqh (hukum) tentang konsepsi estetika Tuhan memang berbeda sebagaimana perbedaan antara Ibn Arabi dengan Al-Hallaj, walaupun mereka sama-sama orang sufi. Al-Hallaj lebih banyak berpendirian wihdat al,-wujud dengan Tuhan dalam rasa (zauq), sedangkan Ibn Arabi lebih cenderung sebagai pandangan hidup yang kemudian disebarkan demikian rupa. Al-Hallaj meskipun lebih banyak mengamalkan pahamnya itu untuk dirinya sendiri, ternyata nasib yang diterimanya lebih buruk ketimbang yang dialami oleh Ibn Arabi. Tetapi pada pihak lain, Ibn Arabi telah dikafirkan oleh sejumlah ulama piawai, di samping tidak sedikit para ulama intelektual yang mendukungnya. Betapun kita harus banyak belajar untuk memperluas cakrawala berpikir, bahwa ternyata paham-paham dalam Islam sampai kepada masalah ketuhanan banyak berbeda interpretasi. Manakah yang lebih benar, hanya Allah-lah Yang Maha Tahu segalanya.
Karya Al-Hallaj.
Salah seorang penulis yang banyak membicarakan Al-Hallaj adalah Ibn Nadiem. Menurut Ibn Nadiem. Hasil karya Al-Hallaj, terutama karangannya dalam bidang tasawuf tidak kurang dari 47 buah. Diantaranya adalah:
- Al-Tawasin.
- Huwa-huwa.
- Al-A'dhu wa al-Tauhid.
- Al-Ushul wa al-Furu'.
- Al-Ahruf al-Muhaddasah, wa al-Azallah wa al-Asma' al-Kuliyat.
- Sirr al-Alam wa al-Mab'us.
- Lim al-Baqa' wa al-Fana'. Maadu al-Nabi wa al-Masal al-A'la.
Buku-buku inilah yang dijadikan landasan utama oleh orientalis dalam membahas ihwal mistik dalam Islam, terutama yang berkaitan dengan riwayat hidup tokoh-tokoh sufi. Di antara nama-nama orientalis yang banyak menulis tentang mistik dalam Islam, baik yang menyinggung tokoh-tokoh kontroversial seperti Ibn Arabi, Al-Hallaj, Suhrawardi dan Al-Farabi, maupun tentang riwayat tokoh sesudahnya seperti Al-Ghazali dapat disebutkan misalnya:
Arthur J Arberty, yang menulis tentang paham-paham sufi persi, dalam bukunya, The Legacy of Persia, yang diterbitkan di London, RA. Nicholson, menulis tiga buah karangan penting tentang mistik, yaitu: Studies in Islamic Mysticism yang diterbitkan oleh Universitas Cambridge: Rumi, Poet and Mystic, yang diterbitkan di New York, dan The Mystic of Islam, yang diterbitkan di London.
Tradisi-tradisi Islam yang banyak dipungut menjadi paham sufi, Alfred Guillaume, telah menulis sebuah buku yang diberi judul: The Traditions of Islam, yang diterbitkan oleh press Universitas Oxford. Seorang orientalis lain D.B. Mac Donald telah menulis dua buah buku penting yang juga dapat dijadikan rujukan untuk membicarakan tasawuf dan filsafat Islam, yaitu: The Religius Attitude and life in Islam yang diterbitkan oleh Universitas Chicago Press.
Al-Hallaj kini telah tiada. Pahamnya masih tetap hidup, baik karena ditentang oleh pihak yang tidak senang maupun disanjung oleh pihak yang mengagumi pahamnya itu.
SUMBER RUJUKAN:
- Abbas H. Zainal Arifin, perkembangan fikiran terhadap agama, Medan.
- Ahmad Zainal Abidin, Ibn Siena Sarjana dan filosof besar dunia, Jakarta.
- Ahmad Abbas Mahmoud, Ketuhanan sepanjang ajaran agama-agama dan pemikiran manusia.
- Atjeh H. Aboebakar, Ahlus Sunnah Wal Djama'ah.
- Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, Bandung Tjerdas 1964.
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. berkaitan dengan ilmu hakikat ini:
”Saya meriwayatkan dari Rasulullah Saw. Dua wadah ilmu: salah satunya telah saya sebarkan kepada kalian. Adapun yang kedua, seandainya saya sebarkan kepada kalian, niscaya kalian akan mengasah pisau untuk memotong leherku ini (dua wadah itu ialah syariat dan hakikat)”.
