Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
MISTISISME ISLAM (1).




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Pemahaman tentang mistisisme Islam terwujud dalam pemahaman tasawuf atau sufisme. Karena memang tasawuf atau sufisme ini merupakan istilah yang dipakai secara khusus untuk menggambarkan kehidupan mistik atau mistisisme dalam Islam. Banyak kalangan pemikir Islam juga menggunakan istilah tasawuf ini untuk memberikan pengertian pada persoalan mistisisme Islam. Seakan-akan keduanya memiliki pengertian yang sama dalam perbedaan istilah.

Secara historis juga diakui tasawuf merupakan bentuk mistisisme dalam Islam. Tasawuf dipahami bukan suatu tatanan ajaran, tetapi lebih sebagai modus pemikiran dan perasaan dalam kerangka agama. Pada awal kemunculannya, mistisisme Islam menampilkan suatu reaksi perlawanan terhadap upaya intelektualisme dan formalisme ajaran Islam dan Al Qur'an yang berkembang sebagai suatu konsekuensi. Secara psikologis, landasannya harus dicari dalam hasrat besar manusia untuk menyingkapkan kebenaran Tuhan dan kebenaran agama, upaya untuk mendekati secara langsung, serta pengalaman yang lebih personal dan lebih mendalam tentang kedua kebenaran itu.

Pengertian ini bisa dipahami bahwa Tasawuf tampak seperti media atau piranti untuk membongkar eksistensi Tuhan secara rasa, hingga pada tahap kesadaran yang terwujud pada prilaku dan sikap hidup bahwa Tuhan memang ada di dalam kehidupan ini bahkan ada dalam dirinya sendiri. Meskipun dalam awal kemunculannya tasawuf juga merupakan produk pemikiran sebagai upaya perlawanan terhadap Islam yang hanya dipahami secara formal semata. Praktik syariat sebagaimana diwajibkannya shalat, puasa, haji, dan zakat yang dibebankan kepada umat Islam tanpa didasari oleh keyakinan sikap dan penghayatan di dalam jiwa, hanya akan menjadi ritual formal yang hanya dijadikan sebagai kewajiban yang gugur setelah dikerjakan. Adapun nilai kewajiban itu ketika dikerjakan tidak sampai meresap sampai ke jiwa batin manusia. Maka, dibutuhkan adanya tasawuf untuk melengkapinya. Ini yang kemudian memunculkan konsep syariah, tarekat, dan makrifat atau hakikat.

Syariah mengajarkan kepada umat Islam tentang kewajiban yang terangkum dalam rukun Islam. Tarekat merupakan jalan atau metode mendekatkan diri kepada Allah Swt. agar seseorang itu mampu merasakan kehadiran Allah Swt. dalam setiap ibadahnya. Apabila tarekat ini bisa dikuasai, sampailah seseorang itu pada makrifat atau hakikat. Di tingkat ini seseorang mengerjakan ibadah dibarengi dengan perasaan kehadiran Allah Swt. Seseorang yang sudah sampai pada tahap ini berarti sudah melampaui Iman, Islam dan terakhir Ihsan.

Pada tingkat terakhir ini seorang hamba akan mampu menghayati segala perbuatannya sebagai ibadah yang selalu dinilai karena Allah Swt. ke mana pun dan di mana pun, akan melihat tingkah seorang hamba dengan kesadaran ketika ia sampai pada tingkat Ihsan. Di sinilah fungsi tasawuf, yaitu mengajarkan kepada seorang hamba tentang bagaimana agar bisa menemukan Tuhan melalui kemampuan kesadaran di dalam hatinya. Karena tidak akan mampu akal manusia menjangkau eksistensi Tuhan di dunia ini. Hanya melalui kesadaran di dalam jiwa dan hati yang mampu sampai pada pencapaian tersebut.

Apa yang diorientasikan di dalam tasawuf ini memang sulit dijelaskan oleh akal manusia. Karena itu, muncul kecenderungan mistik Islam atau tasawuf ini dalam bahasa Inggris disebut Islamic mysticism (mistik yang tumbuh dalam Islam). Sedangkan ilmu yang mengajarkannya itu mistisisme. Maka wajar apabila kalangan Orientalis Barat ternyata lebih suka menyebut sufisme itu sebagai mistisisme Islam. Sementara, sufisme itu sendiri merupakan bagian dari ajaran tasawuf. Karena di dalam tasawuf diajarkan ilmu pengetahuan tentang sufi.

Para filusuf yang meletakkan dasar akalnya sebagai barometer kebenaran memang sangat menyadari bahwa adanya alam ini pasti ada yang menciptakan. Siapa yang menciptakan ini yang dipikirkan mereka melalui kemampuan akalnya. Memanfaatkan filsafat para filusuf berupaya menjelaskan fenomena di alam semesta dengan melibatkan efek dan alasan. Bentuk penjelasan ini terus banyak terpengaruh oleh pemikiran dari St. Thomas Aquinas ketika memasuki abad ke 13. Dalam argumennya, Aquinas memanfaatkan apa yang terjadi di alam semesta sebagai pembuktian atas kekuatan dan keunikan dari Tuhan. Itulah cara akal dalam memahami eksistensi Tuhan.

Berbeda dengan Islam yang memahami akal sebagai daya pikir rasional yang dimiliki oleh manusia beserta dengan keterbatasan kemampuan yang dimilikinya. Keterbatasan kemampuan yang dimiliki manusia menjadikan mereka tidak akan mampu mencapai tahapan kesadaran akan eksistensi Tuhan di dalam jiwanya. Hanya melalui hati yang sudah bersih dari noda-noda dosa akibat kemaksiatan dan kesadaran akan eksistensi Tuhan di dalam jiwanya bisa tumbuh kuat. Bahkan pada tingkatan tertentu seseorang akan mampu melihat eksistensi Tuhan di dalam hatinya.

Dari pembahasan di atas, maka jelas Islam adalah agama yang di dalamnya terdapat ajaran tentang praktik mistik yang dalam istilahnya disebut tasawuf. Di dalam tasawuf ini di ajarkan bagaimana cara mendekatkan diri pada Allah Swt. dengan metode-metode tertentu yang tidak mudah difahami oleh akal manusia. Pemahaman akal memang tidak akan bisa berfungsi karena jalan tasawuf ini yang dibangun adalah aspek hati yang mempunyai daya rasa dalam diri manusia.

Manusia tidak akan mungkin bisa menjelaskan rasa yang ada dalam dirinya kepada orang lain. Rasa pedas dilidah seseorang yang baru saja memakan sambal tentu tidak akan bisa diketahui oleh teman di dekatnya. Seseorang itu pun tidak akan mampu menjelaskan bagaimana rasa pedas yang dirasakannya kepada temannya tersebut sehingga apa yang dirasakannya itu mampu dirasakan pula oleh temannya tersebut. Itulah rasa, sifatnya sangat personal. Kebenarannya ada di lidah yang merasakan. Seseorang hanya mampu melihat gejala yang ditimbulkan dari rasa itu sendiri.

Anda melihat teman anda kepanasan dalam suatu ruangan, padahal anda tidak di dalam ruangan tersebut. Bagaimana anda bisa tahu, tentu melalui banyaknya keringat yang mengalir deras di dahi dan seluruh badannya. Identifikasi ini memang bisa dilakukan. Namun, untuk mengetahui bagaimana panasnya ruangan, seseorang itu tidak hanya melihat dari kejauhan saja. Tetapi harus masuk dalam ruangan tersebut.

Begitu pun kedekatan dengan Allah Swt. Apabila ingin mengetahui, seseorang itu harus merasakannya sendiri. Itulah dimensi hati. Berbeda dengan dimensi akal. Dimensi hati inilah yang menjadi objek pengembangan diri di dalam tasawuf. Untuk memahaminya lebih dalam bisa melalui beberapa pengertian dasar di bawah ini.

Islam memberi pemahaman bahwa manusia ada tidak secara tiba-tiba, sebagaimana yang difahami oleh kalangan pemikir teori evolusi, seperti Charles Darwin yang ada dalam bukunya, The origin of Species. Buku ini menjelaskan tentang asal-usul species. Bahkan di dalamnya juga membahas tentang evolusi manusia, biarpun tidak secara terang-terangan. Melalui teori itu, dapat dipahami manusia dengan bentuknya yang sekarang karena melalui proses evolusi. Secara tidak langsung, teori ini telah meniadakan peran Tuhan di proses penciptaan manusia.

Berbeda dengan Islam yang memahami manusia ada karena diciptakan oleh Allah Swt. Pada konteks ini, manusia adalah makhluk. Sedangkan Allah Swt. adalah sang Khalik (pencipta). Ini menarik sebuah konsekuensi segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah, tentu semuanya bisa disebut sebagai makhluk. Maka, sebelum makhluk diciptakan, yang ada hanyalah Allah Swt. Dengan ke-Maha Kuasa-Nya, kemudian Allah Swt. menciptakan makhluk.

Ini memberi pengertian bahwa makhluk itu kemunculan melalui diri Allah Swt. Maka, ketika semuanya tiada, kembalinya akan kepada diri Allah Swt. semuanya. Ini menjadi dasar pemahaman bagi kalangan ulama sufi. Manusia pada akhirnya akan kembali bersatu pada Dzat Ilahi yang suci. Konsekuensinya, manusia perlu menjadi suci agar bisa kembali bersatu dengan Dzat yang suci.

Namun dalam kehidupan ini ternyata manusia banyak yang melakukan dosa, berbuat maksiat, tidak mentaati perintah dan menjauhi larangan_Nya. Pelanggaran yang bernilai sebagai dosa itu ternyata membuat kotor jiwa dan hati seseorang. Kesucian hati ternodai. Manusia yang saat dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci ),akhirnya menjadi rusak kesuciannya akibat perilaku-perilakunya sendiri tidak sesuai dengan apa yang disyariatkan Allah Swt. Apabila sudah kotor, bagaimana akan kembali pada Dzat Allah Swt? Bahkan untuk merasakan kedekatan saja tidak akan mampu. Padahal Dia adalah Dzat yang Suci. Untuk bisa kembali kepada_Nya. harus dalam keadaan suci pula. Maka, munculah tasawuf untuk menjawab persoalan tersebut.

Untuk berada lebih dekat pada Tuhan, seorang sufi harus menempuh jalan panjang yang berisi stasion-stasion yang disebut maqamat. Maqamat adalah bentuk jamak dari maqam dalam istilah Arab. Maqamat atau stages dan stations dalam bahasa Inggeris. Disamping istilah maqamat ini dalam literatur tasawuf terdapat pula istilah ahwal (bentuk jamak dari haal).1 Jadi di dalam ajaran tasawuf dikenal istilah dan ahwal. Maqam adalah tahapan atau tingkatan spritual yang telah dicapai oleh seorang sufi. Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi mengatakan maqam sebagai tingkatan seorang hamba di sisi Allah swt yang diperolehnya karena ibadah, mujahadah, riyadah dan putusnya hubungannya dengan selain Allah.2 Maqam juga berarti hasil dari kesungguhan dan perjuangan yang terus menerus. Seseorang baru dapat berpindah dan naik dari satu maqam ke maqam yang lebih tinggi setelah melalui latihan dan menanamkan kebisaaan-kebisaaan yang lebih baik lagi dan telah pula menyempurnakan syarat-syarat yang harus ada pada maqam.

Untuk berada lebih dekat pada Tuhan, seorang sufi harus menempuh jalan panjang yang berisi stasion-stasion yang disebut maqamat. Maqamat adalah bentuk jamak dari maqam dalam istilah Arab. Maqamat atau stages dan stations dalam bahasa Inggeris. Disamping istilah maqamat ini dalam literatur tasawuf terdapat pula istilah ahwal (bentuk jamak dari haal).1 Jadi di dalam ajaran tasawuf dikenal istilah dan ahwal. Maqam adalah tahapan atau tingkatan spritual yang telah dicapai oleh seorang sufi. Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi mengatakan maqam sebagai tingkatan seorang hamba di sisi Allah swt yang diperolehnya karena ibadah, mujahadah, riyadah dan putusnya hubungannya dengan selain Allah.2 Maqam juga berarti hasil dari kesungguhan dan perjuangan yang terus menerus. Seseorang baru dapat berpindah dan naik dari satu maqam ke maqam yang lebih tinggi setelah melalui latihan dan menanamkan kebisaaan-kebisaaan yang lebih baik lagi dan telah pula menyempurnakan syarat-syarat yang harus ada pada maqam.

🙏

Dalam konteks Islam, istilah asrar(tunggal: sirr [rahasia] atau bathin[yang tersembunyi atau esoteris]) menduduki posisi kunci. Mistisisme Islam ialah dimensi esoteris Islam itu sendiri, yang diidentifikasi sebagai sufisme atau tasawuf.