MUTIARA MAKRIFAT NABI KHIDIR.

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Biar pun Khidir tidak secara jelas mengajarkan suatu pengetahuan kepada kita semua. Ia sangat patut untuk dijadikan sebagai seorang guru rohani atau spiritual. Ada beberapa hal yang bisa diambil sebagai pelajaran hidup, dari kemampuan Khidir yang telah menguasai ilmu makrifat. Pertama, pelajaran tentang ketawadhu'an (rendah hati). Dari kisah Khidir, kita dapat mengambil pelajaran penting, di antaranya Ilmu karunia Allah Swt. tidak ada seorang manusia pun yang boleh mengklaim bahwa dirinya lebih berilmu dibanding yang lainnya. Ingatlah, di atas langit masih ada langit. Begitu pribahasanya.
Mungkin Anda sekarang seorang ahli hukum, bidang negoisasi, dan menguasai teknik diplomasi. Anda seorang intelektual yang brilian, tokoh pemikir hebat, dan terkenal di mana-mana. Mungkin juga anda seorang yang handal dalam berpolitik serta wawasan kenegaraannya luas dan mendalam. Pernahkah anda berpikir, dari semua kemampuan yang anda miliki itu hanyalah anugerah dari Allah Swt. Pengetahuan yang anda miliki itu hanyalah sedikit sekali dibandingkan dengan luasnya samudera Ilmu Allah Swt. Lantas mengapa anda sombong? Seandainya kemampuan anda itu diambil kembali oleh Allah Swt. melalui jalan yang tidak disangka-sangka, misalnya dalam suatu perjalanan anda terjatuh, lalu kepala anda terbentur di aspal jalan hingga menimbulkan memar pada otak, lalu apa yang bisa anda perbuat selanjutnya. Sangat mudah bagi Allah Swt. untuk mengambil sesuatu yang telah dianugerahkan kepada seorang manusia.
Selain itu, anda juga perlu sadari bahwa sepandai-pandai anda, masih ada yang lebih pandai lagi dari anda. Seorang Musa yang sudah diangkat menjadi Nabi dan Rasul saja langsung ditegur oleh Allah Swt. karena merasa lebih pintar. Oleh karena itu, bersikaplah rendah hati pada siapa pun, meskipun anda mempunyai pengetahuan yang cukup luas tentang sesuatu hal. Wejangan tentang sikap rendah hati ini yang ingin diajarkan oleh Khidir.
Tawaduk artinya sifat rendah hati, tidak takabur/sombong atau angkuh atas kelebihan yang telah Allah Swt. berikan kepadanya. Tawaduk (التوا ضع) secara bahasa adalah ”Ketundukan“ dan ”Rendah Hati”. Asal katanya adalah Tawadha'atil Ardhu' yakni tanah itu lebih rendah daripada tanah sekelilingnya.
Tawaduk secara istilah adalah tunduk dan patuh kepada otoritas kebenaran serta kesediaan menerima kebenaran itu dari siapa pun yang mengatakannya, baik dalam keadaan rida maupun marah. Tawaduk juga merendahkan diri dan santun terhadap manusia dan tidak melihat diri memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah (manusia) yang lainnya. Didalam Islam pun sikap rendah hati ini sangat dianjurkan. Sebagaimana yang tersirat dalam Al Qur'an dan hadits Nabi berikut.
”Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al Furqon [25]: 63)
Di dalam hadits Nabi juga diterangkan :
”Tidaklah seorang bertawaduk yang ditunjukkan semata-mata karena Allah, melainkan Allah Azaza wa Jalla akan mengangkat (derajat) nya (HR. Imam Muslim didalam Shahihnya no. 2588).
Dari ayat dan hadits Nabi di atas dapat kita pahami bahwa sikap tawaduk (rendah hati) dalam Islam sangat dianjurkan. Ada beberapa manfaat yang bisa dirasakan dari sikap tawaduk ini. Pertama, bisa membuat derajat seorang hamba semakin tinggi di hadapan Allah Swt. Allah Swt. akan mengangkat seorang hamba_Nya yang bersikap rendah hati.
Dalam hadits juga diterangkan:
”Tidaklah berkurang harta karena sedekah, tidaklah Allah menambah kepada seseorang hamba sifat pemaaf, kecuali dia akan mendapatkan kemuliaan, serta tidaklah seorang menerapkan sifat tawadhu karena Allah, kecuali Allah pasti mengangkat derajatnya.” (HR. Imam Muslim dalam Shahihnya XVl/141, Imam Ad-Darimi dalam Sunannya I/369, Imam Ahmad dalam Musnad 2/386 dan selainnya)
Dalam hadits lain juga dijelaskan :
”Barangsiapa yang menanggalkan pakaian mewah karena tawaduk kepada Allah, padahal ia dapat (mampu) membelinya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadap sekalian manusia, kemudian menyuruhnya memilih sendiri pakaian iman mana pun yang ia kehendaki untuk dikenakan. (HR. Imam At Tirmidzi Sunannya no.2481)
Nabi Muhammad Saw. bersabda:
”Allah berfirman, 'siapa yang tawadhu' kepada_Ku seperti ini (lalu Nabi saw. menunjukkan tanah dengan bagian telapak tangannya dan menjatuhkan ke tanah, sembari terus menjatuhkan tangannya ke tanah beliau melanjutkan) maka, Aku akan meninggikannya seperti ini.” (Beliau membalikkan telapak tangannya tinggi menuju langit). (HR. Imam Ahmad).
Kedua, tawaduk itu menghasilkan keselamatan, mendatangkan persahabatan, menghapuskan dendam, dan menghilangkan pertentangan. Dalam sebuah hadits Nabi dijelaskan :
”Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawaduk, sehingga seseorang tidak merasa bangga lagi sombong terhadap orang lain dan tidak pula berlaku aniaya kepada orang lain.” (HR. Imam Muslim).
Seorang yang bersikap tawaduk hidupnya akan selamat. Hal ini bisa dirasakan langsung oleh kita ketika sedang bersosial dengan masyarakat. Apalagi kita bersikap sombong di hadapan orang lain, orang itu akan membenci sikap kita. Siapa yang tahan melihat ada seorang yang selalu membanggakan diri sendiri di hadapan orang lain. Sikap sombong yang kita munculkan di hadapan orang lain secara tidak langsung kita merendahkan orang tersebut. Orang yang direndahkan ini hatinya akan sakit, sehingga akan memunculkan dendam pribadi. Ini yang membuat seseorang yang suka sombong menjadi terancam hidupnya.
Sebaliknya, apabila kita bersikap rendah hati pada orang lain, mereka akan merasa dihormati. Sikap ini akan mendatangkan banyak sahabat. Orang akan merasa nyaman dengan sikap kita. Kenyamanan yang dirasakan orang lain ketika bersama kita, akan menjadikan perekat tali persahabatan menjadi semakin erat. Itulah beberapa manfaat sikap rendah hati dalam kehidupan sosial masyarakat.
Selain itu, Kesombongan merupakan sikap yang tidak patut untuk seorang manusia. Manusia, bagaimanapun adalah seorang makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt. sebagaimana hewan, tumbuhan, gunung, lautan, dan sebagainya. Hanya saja manusia diberi kelebihan akal untuk berpikir. Jadi, kemampuan yang dimiliki oleh seorang manusia tidak lain juga merupakan anugerah dari Allah Swt. maka sudah sepantasnya Allah Swt. Itu sombong.
Allah Maha Kuasa di alam semesta ini, tidak ada yang mampu menandingi kekuasaannya. Maka wajar, bila Dia memiliki sifat sombong. Biar pun begitu, Allah Swt. sendiri masih berselawat atas Nabi Muhammad Saw. Ini menunjukkan bahwa Allah sendiri bisa memuliakan Rasulullah Saw. melalui wujud selawat. Tapi bagi manusia yang lemah dengan keterbatasannya, mengapa justru bersikap sombong.
Rasulullah Saw. dengan tingginya kemuliaan, beliau pun masih tidak sombong, biar pun oleh Allah Swt. telah dijamin masuk surga, beliau masih sering membaca istighfar setiap hari minimal 70 kali. Ini sikap tawaduk yang perlu dicontoh oleh setiap manusia, khususnya umatnya. Diceritakan oleh Qais bin Hazim, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. dengan rasa gemetar. Melihat itu, lalu beliau bersabda, ”Tenanglah kamu karena saya adalah anak dari seorang ibu yang memakan dendeng.” (Akhlaaqun Nabi karya Abi Asy Syekh: 139 dan HR. Ibnu Majah).
Laki-laki yang datang kepada Rasulullah Saw. dengan rasa gemetar itu karena melihat betapa mulianya Rasulullah Saw. Orang biasa yang berhadapan dengan beliau sampai merasa gemetar. Tapi Rasulullah bukan tipe orang yang sombong. Nabi mengatakan dirinya adalah anak dari seorang ibu yang memakan dendeng untuk menghilangkan sifat sombong dan menghilangkan sifat bangga terhadap diri sendiri. Selain itu, laki-laki yang datang kepada beliau pun menjadi merasa tenang dan nyaman ketika bertemu dan mengobrolkan masalah-masalah yang ingin ditanyakan. Seandainya Rasulullah Saw. tidak tawaduk, niscaya laki-laki yang datang itu bertambah gemetaran bertemu beliau. Ini salah satu manfaat bersikap tawaduk pada orang lain.
Hikmah yang kedua adalah kita perlu bersabar dan tidak terburu-buru untuk mendapatkan kebijaksanaan dari setiap peristiwa yang kita alami. Diceritakan, Nabi Musa as. karena tidak tahan melihat perbuatan Khidir, akhirnya dia protes. Padahal di awal sudah mengadakan kesepakatan untuk tidak bertanya apa pun atas perbuatan yang akan dilakukan oleh Khidir. Protes Nabi Musa as. Menunjukkan bahwa dirinya kurang sabar dan terburu-buru dalam mendapatkan ilmu kebijaksanaan. Hingga akhirnya, ia ditinggalkan oleh Khidir.
Dalam cerita Khidir meninggalkan Nabi Musa as. sebetulnya Khidir telah memberikan pelajaran penting akan kesabaran diri dalam mencapai suatu hal. Segala yang ingin dicapai secara cepat, hasilnya tidak maksimal. Istilahnya karbitan. Berbeda rasanya, antara buah mangga yang matang di pohon dengan buahnya yang matang karena dikarbit. Tentu lebih manis yang matang di pohon rasanya.
Memang kebanyakan orang kurang sabar dalam mencapai suatu tujuan hidupnya. Manusia kecenderungannya ingin cepat tanpa proses panjang. Kecenderungan itu yang membuat banyak manusia melakukan jalan jalan pintas untuk mencapai tujuan hidupnya. Misalkan ingin banyak harta, tetapi malas bekerja keras. Akhirnya untuk menjadi kaya melakukan perampokan di bank dan sebagainya hanya untuk mendapatkan uang banyak secara instan.
Hikmah ketiga adalah setiap murid harus memelihara adab dengan gurunya. Setiap murid harus bersedia mendengar penjelasan seorang guru dari awal hingga akhir sebelum nantinya dapat bertindak di luar perintah dari guru. Dalam dunia tasawuf, seorang murid harus mengikuti perintah muridnya (guru spiritual). Apa yang diperintahkan harus dikerjakan. Tentu saja, seorang guru tidak akan memerintahkan muridnya pada sesuatu hal yang menyesatkan. Perintah seorang guru tidak lain untuk kebaikan seorang murid. Seorang guru, tentu tahu kondisi sang murid, sehingga tidak akan dibebani dengan persoalan yang berat. Apabila perintah seorang guru tidak ditaati, maka sang guru pun akan enggan mendidiknya.
Dalam konteks tasawuf, ada istilah rabithah. Rabithah dalam pengertian bahasa (lughat) artinya bertali, berkait atau berhubungan. Sedangkan dalam pengertian istilah tarekat, rabithah adalah menghubungkan ruhaniah murid dengan ruhaniah guru guna mendapatkan wasilah dalam rangka perjalanan menuju Allah
Rabithah antara seorang murid dengan guru adalah sesuatu yang sangat penting dalam disiplin amalan tasawuf. Dengannya seorang murid mesti mewujudkan suasana yang baik dan harmonis dengan seorang guru, di samping murid itu sendiri harus tunduk dan patuh terhadap semua peraturan yang telah dibuat oleh guru.
Khidir yang dicari oleh Nabi Musa a.s. tidak lain tujuannya untuk berguru. Tetapi karena Nabi Musa a.s. tidak mematuhi perintah sang guru, ia pun ditinggalkan. Dalam kisah itu, secara tidak langsung Khidir ingin memberikan pelajaran kepada kita semua bahwa ketaatan pada sang guru sangat penting. Guru tentu lebih tahu apa yang kita inginkan. Karena itu, apabila diperintahkan melakukan sesuatu, sang murid jangan sampai membantah atau melanggarnya apabila ingin berhasil dalam mendapatkan ilmu.
Selain itu, kisah Khidir ini juga menunjukkan bahwa Islam memberikan kedudukan yang sangat istimewa kepada seorang guru. Guru adalah orang yang ditunggu pelajarannya untuk membebaskan kebodohan sang murid. Secara tidak langsung, sang murid telah mempercayakan segala sesuatu kepada sang guru dalam proses pendidikannya. Melalui gurulah sang murid didik menjadi orang yang berpengetahuan, sehingga mampu mewujudkan segala impian dan cita-cita sang murid. Begitu besar jasa guru sampai Islam pun sangat menghargai jasa seorang guru. Melalui kisah Khidir itu, Islam menunjukkan penghargaannya yang besar kepada sang guru.
Begitu juga apabila kita ingin mendapatkan ilmu secara langsung kepada Allah Swt. sebagaimana Khidir, perlu taat pada perintah dan larangan Allah Swt. Apabila telah banyak berbuat dosa dan maksiat, perbanyaklah meminta maaf dengan banyak membaca istighfar. Apabila sudah mencapai tahapan tertentu, akan terbukalah hati untuk menerima ilmu pengetahuan yang sumbernya langsung dari Allah Swt. Dan sudah tentu membutuhkan waktu, dan usaha yang keras. Tidak secara tiba-tiba dapat dikuasai.
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti."
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)
