Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
SENANDUNG DI BAWAH TIANG GANTUNGAN (2).




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

OLEH : ABU REZA WAHIDI

Yang Kaulihat Inilah Tasawuf

Menurut Muhammad Ibn al-Husain al-sulami dalam tabaqat al-Suffiah dan al-Sya'rani dalam al-Tabaqat serta Muhammad Ibn Sa'ad (wafat 844M) juga dalam bukunya yang nyaris berjudul sama dengan dua buku di atas. Kitab al-Tabaqat bahwa yang bertindak sebagai algojo adalah Abu'l Haris. Dengan sikap sadis dan wajah kriminal, algojo ini langsung meloncat ke depan Al-Hallaj bagaikan hendak menerkam, kemudian dihantamnya wajah Al-Hallaj dengan gagang pedang. Wajah itu sendiri telah begitu babak belur, karena cemeti telah merajahnya sebelum itu. Sekali lagi dua murid setianya, Al-Wasiti dan Al-Syibli serta beberapa tokoh sufi yang lain terpekik melihat kekejaman yang nyaris mirip kekejaman Haman, pembantu Fir'aun yang disebut dalam Qur'an. Al-Wasiti bahkan telah jatuh pingsan melihat nasib gurunya. Al-Hallaj sendiri tidak merintih dan tidak memperlihatkan ekspresi apapun, bagaikan telah mati rasa, atau seperti ia mengalami kesembuhan dalam menjemput maut itu, sebagaimana isi yang terkandung dalam senandungnya.

Sebaliknya, Al-Hallaj dengan ketenangan yang mencekam perasaan pendengarnya berkata,”Kalian telah melaksanakan ketentuan yang kalian anggap tepat terhadap orang yang kalian duga melakukan pelanggaran.”

Begitu ia selesai mengucapkan kalimat tersebut, sang algojo, Abu'l Haris, dengan angkuh melangkah ke depan Al-Hallaj. Wajahnya beku dan sinis. Benar-benar seorang algojo profesional yang berdarah dingin. Tanpa sedikitpun terpancar perasaan iba di wajahnya, kedua tangan Al-Hallaj dipatahkan, kemudian menyusul kedua kakinya. Orang yang makin ramai melihat perbuatan yang amat biadab itu termasuk murid-murid Al-Hallaj, tak kuat menyaksikannya. Tapi Al-Hallaj sendiri tidak mengeluh. Begitu kedua kakinya juga dipatahkan. Al-Hallaj sudah tak ingat apa-apa lagi. Dia pingsan

Dalam keadaan masih pingsan itulah, tubuhnya yang sudah tak berbentuk lagi, diderek ke tiang kayu palang itu, nyaris mirip tiang kayu penyaliban. Orang-orang yang berkerumun tak kuat memandang peristiwa tragis itu. Benar-benar kejam tiada tara. Padahal terhadap seekor hewan pun, seorang mukmin harus memperlihatkan kasih sayang, seperti yang ternukil dalam sabda Nabi:

”Sesungguh Allah Ta'ala telah menuliskan kebaikan atas segala sesuatu karena itu, jika kamu membunuh, bunuhlah dengan baik. Jika kamu menyembelih, sembelihlah hewan sembelihan secara baik bukan dengan sadis tak berperikemanusiaan. Dan hendaklah seseorang kamu menajamkan pisaunya (yang dipergunakan untuk menyembelih), dan menyenangkan hewan itu sebelum disembelih.” (HR. Muslim dari Abi Ya'la Syaddad Ibn Aus)

Al-Hallaj yang telah diderek ke tiang salib itu menjadi siuman ketika paku-paku ditancapkan ke telapak tangan dan kakinya yang terkulai patah. Darah bercucuran, menetes dari luka-luka bekas paku. Pada saat itulah, seorang muridnya dengan hati hancur, bertanya kepadanya: ”Guru! Berikan kepadaku wejanganmu yang terakhir tentang arti tasawuf!” dengan suara tersendat yang hampir tak mampu ditangkap telinga, Al-Hallaj berkata, ”Apa yang engkau lihat inilah, makna tasawuf yang paling mudah.” Setelah memberi jawaban yang diminta muridnya, kepalanya pun terkulai. Al-Hallaj menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Nyawa telah meninggalkan raganya, di bawah kekejaman tangan-tangan penguasa dari dinasti Abbasiah.

Jasadnya yang telah ditinggalkan oleh nyawa itu dibiarkan begitu saja beberapa lama, agar menjadi pelajaran bagi orang lain. Seakan penguasa Abbasiah dengan nada penuh sinisme mengatakan, ”Itulah hukuman yang pantas kepada orang yang berani berlainan pendapat dengan kami.” Tragis, memang! Barulah kemudian jenazah itu dibakar (ini juga bukan ketentuan Islam) abunya dihanyutkan ke sungai dajlah. Maka berakhirlah riwayat seorang sufi besar dari arena kehidupan. Bukan pahamnya yang hancur, karena ternyata beberapa sufi lain yang hidup kemudian mengagumi Al-Hallaj dan mengikuti ajarannya. Di antaranya adalah Ibn Arabi dan Syekh Siti Jenar serta Hamzah Fansuri di tanah Nusantara ini.

🙏

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. berkaitan dengan ilmu hakikat ini: ”Saya meriwayatkan dari Rasulullah Saw. Dua wadah ilmu: salah satunya telah saya sebarkan kepada kalian. Adapun yang kedua, seandainya saya sebarkan kepada kalian, niscaya kalian akan mengasah pisau untuk memotong leherku ini (dua wadah itu ialah syariat dan hakikat)”.